Biografi Jenderal Soedirman, Sang Bapak Tentara Indonesia

Jenderal Soedirman lahir pada 24 Januari 1916 dan tumbuh di Cilacap menjadi anak yang pada masa pendidikannya Beliau aktif dalam kegiatan organisasi dan menjadi penggiat di Kelompok Pemuda Muhammadiyah.

Soedirman dipandang sebagai sosok yang mampu menjadi penengah dan membantu dalam penyelesaian masalah di lingkungannya.

Soedirman mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Wirotomo yang mayoritas pendidiknya merupakan nasionalis Indonesia, sehingga cukup banyak mempengaruhi cara pandang Soedirman terhadap kolonial.

Pada tahun 1936, ia lalu menikah dengan Alfiah di Cilacap dan dikaruniai tiga orang putra dan empat putri. Sebagai guru, Beliau juga disenangi oleh murid-muridnya, hingga kemudian diangkat sebagai kepala sekolah di sana.

Soedirman mengabdi dalam masa merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada Oktober 1943, lahir pasukan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang dipersiapkan untuk serangan sekutu. Pada saat ini, Soedirman menjadi perwakilan rakyat di dewan keresidenan Syu Sangikai yang dipimpin oleh Jepang.

Dari jabatannya tersebut, Soedirman dimintakan bergabung bersama PETA dan ditugaskan merekrut pemuda yang belum terpengaruh pandangan pemerintah Belanda, atas pasukan tersebut Soedirman diangkat sebagai komandan (daidanco)dan dilatih oleh perwira dan tentara Jepang di Bogor selama beberapa bulan.

Pada April 1945, terjadi pemberontakan dalam tubuh PETA dikomando oleh Kusaeri. Soedirman kemudian menyanggupi perinta untuk menyudahi pemberontakan tersebut dengan syarat tidak membunuh pemberontak tersebut maupun memusnahkan lokasi persembunyian mereka.

Kusaeri menyerah pada hari keempat pemberontakan tersebut, dan hal ini dianggap sebagai ancaman bagi Jepang. Oleh karena itu Soedirman dan bawahannya diasingkan sebagai buruh ke camp penahanan di Bogor.

Pada Agustus 1945, terjadi serangan dari sekutu kepada Jepang melalui bom atom di Hiroshima dan Nagasaki yang menyebabkan lemahnya kuasa Jepang di Indonesia.

Pada saat itu, Soedirman memimpin pelarian para tahanan dan menyuruh mereka kembali ke kampung halaman, sementara Beliau menjumpai Presiden Soekarno di Jakarta. Oleh Presiden, Beliau diminta memimpin perlawanan terhadap Jepang di Jakarta, namun Beliau memilih untuk memimpin pasukan Kroya, Banyumas.

Pada akhir Agustus 1945 dibentuk Badan Keamanan Rakyat sebagai Badan Pembantu Pembelaan yang menampung prajurit yang dulu berasal dari PETA dan Heiho yang telah dibubarkan oleh Jepang.

Tentara BKR menjadi Tentara Keamanan Rakyat dan Soedirman sebagai pimpinannya pada usia 29 tahun. Berdasarkan ini maka Soedirman dipromosikan sebagai Jenderal. Pada November 1945, pasukan Divisi V dibawah perintah Beliau menyerang sekutu di Ambarawa dan serangan lain yang melumpuhkan sekutu.

Atas kejadian itu Beliau diangkat sebagai panglima besar TKR pada Desember 1945, dan pada 1948 Beliau memimpin pada markas besar pertempuran, namun pada September 1948 Beliau sakit TBC sehingga mengirimkan Perwira Nasution untuk memadamkan revolusi proletar di Madiun.

Bahkan saat dirawat di rumah sakit, Beliau masih membahas strategi perlawanan terhadap Belanda bersama Nasution, dan menyepakati perang gerilya pada Agresi Militer II di Yogyakarta setelah Beliau keluar dari perawatan.

Dalam perjalanan perang gerilya, Soedirman memerintah TNI melalui radio dibantu Letkol. Hutagalung dan membahas Serangan Umum 1 Maret 1949 di Jawa Tengah yang berhasil melumpuhkan Belanda dalam 6 jam.

Gencatan senjata di Jawa dimulai Agustus 1949, dan pada saat itu masih mengidap TBC. Beliau wafat di Magelang pada 29 Januari 1950 dan disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki Yogyakarta. Pada 1964, Soedirman ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Leave a Comment