Biografi Soekarno, Sang Bapak Proklamator Indonesia

Bung Karno lahir pada 6 Juni 1901 dengan nama Kusno, namun karena sakit-sakitan maka namanya diganti menjadi Soekarno pada usia 11 tahun. Soekarno bersekolah di ELS hingga 1915 dan bergabung dalam organisasi pemuda Tri Koro Dharmo bersama Budi Utomo dan organisasi Jong Java pada 1918. Dengan latar belakang pendidikan teknik sipil, Beliau pernah menjadi arsitek yang berpengaruh di Indonesia.

Pada masa mudanya, Soekarno tinggal bersama H.O.S. Cokroaminoto dan turut dalam organisasi Serikat Islam, bersama Haji Agus Salim dan Abdul Muis. Melalui Cokroaminoto, Soekarno belajar politik dan pidato. Pada 1923, Soekarno menikah dengan Inggit Gunarsih setelah menceraikan isterinya yang pertama yaitu Siti Oetari di Bandung.

Pada 1926, Soekarno mendirikan Algemene Studie Club di Bandung yang menjadi bibit Partai Nasional Indonesia pada 1927. Melalui PNI, Soekarno mengamalkan Marhaenisme yang condong kepada kesejahteraan rakyat kecil dan memiliki tujuan agar bangsa Indonesia bisa merdeka dari jajahan kolonial Belanda.

Karena pengaruhnya, Soekarno pernah ditahan di Yogyakarta dan dipindahkan ke Bandung pada 1929. Partai Nasional Indonesia ini terpecah dan Soekarno bergabung dengan pecahannya, Partai Indonesia pada 1932.

Soekarno juga pernah diasingkan ke Bengkulu pada 1938 dan bertemu dengan Bung Hatta dan Fatmawati yang kelak kemudian menjadi istrinya. Pada 1942, Soekarno juga sempat dipindahkan ke Australia oleh Belanda karena pada saat itu kekuasaan Jepang mulai memasuki Indonesia.

Pada waktu penguasaan Jepang, Soekarno aktif dalam lembaga yang bekerjasama dengan pemerintah Jepang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, seperti Jawa Hokokai, Pusat Tenaga Rakyat, BPUPKI, dan PPKI.

Soekarno adalah orang yang aktif mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, mulai dari merumuskan Pancasila sebagai dasar negara, UUD 1945, dan naskah proklamasi.

Pada saat itu Soekarno disingkirkan oleh golongan muda ke Rengasdengklok bersama Bung Hatta karena tidak mau memproklamirkan kemerdekaan Indonesia secepatnya, padahal saat itu kekuasaan Jepang sedang lemah akibat serangan sekutu dengan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Namun kemudian, golongan muda mengembalikan Soekarno dan Hatta ke Jakarta.

Setelah proklamasi kemerdekaan oleh Soekarno pada 17 Agustus 1945, Soekarno baru diangkat sebagai presiden Indonesia pertama pada 18 Agustus 1945 oleh PPKI. Pasca kemerdekaan, Soekarno sempat ditahan Belanda saat peristiwa Madiun 1948 dan agresi militer Belanda II.

Soekarno merupakan salah satu pihak yang menginisiasi Konferensi Asia Afrika 1955 yang melahirkan Dasasila Bandung yang memperhatikan konflik imperialisme dan kolonialisme, ketimpangan badan dunia internasional dalam penyelesaian konflik dunia.

Dari sinilah lahir gerakan non blok. Selain itu, Soekarno juga aktif dalam menjalankan politik luar negeri bebas aktif dengan mengunjungi pemimpin negara lainnya seperti Uni Soviet, Amerika Serikat, Kuba, dan Tiongkok.

Dalam hal ideologi, Soekarno mendukung pandangan Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunisme), sehingga pada peristiwa Gerakan 30 September 1965, Beliau menolak membubarkan Partai Komunis Indonesia yang dituding sebagai penggerak pembunuhan tersebut dalam Tri Tuntutan Rakyat yang disampaikan oleh kesatuan pelajar dan mahasiswa saat itu.

Mengantisipasi keterpurukan politik tersebut, Soekarno menunjuk Soeharto berdasarkan surat perintah 11 Maret 1966 untuk menjaga keamanan presiden dan mengambil tindakan membubarkan PKI yang dinilai oleh Soeharto sebagai partai terlarang.

Pada 20 Februari 1967, Soekarno membuat surat pernyataan penyerahan kekuasaan kepada Soeharto sebagai kepala pemerintahan Indonesia, dan kekuasaan tersebut dicabut oleh MPRS bersamaan dengan gelarnya sebagai pemimpin besar revolusi.

Leave a Comment