11 Cerita Rakyat Indonesia dari Berbagai Daerah | Legenda Nusantara

Posted on

Kita semua tahu, Indonesia tak hanya kaya akan beragam bahasa, suku, makanan maupun tarian tapi juga memiliki warisan budaya.

Salah satunya adalah cerita rakyat yang turun temurun disampaikan secara lisan oleh orang tua, kakek atau guru di sekolah.

Pada umumnya, cerita rakyat bersifat anonim atau pengarangnnya tidak dikenal. Cerita rakyat menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya Indonesia.

Hampir semua daerah di Indonesia memiliki cerita rakyat masing-masing.


Kumpulan Cerita Rakyat Indonesia


Image Source: apps-foundry.com

Nah, sebagai generasi muda Indonesia wajarlah bila seharusnya kita mempelajari atau paling tidak mengetahui cerita rakyat apa saja yang berasal dari indonesia.

Yuk, Simak beberapa cerita rakyat yang paling populer di berbagai daerah di Indonesia.

1. Cerita Rakyat: Legenda Danau Toba

Pada jaman dulu, di desa wilayah Sumatra, hidup seorang petani yang selalu giat bekerja di lahan pertaniannya. Walau lahanya tak terlalu luas, ia pantang menyerah dan tak kenal lelah untuk bisa mencukupi kebutuhan hidupnya. Walau sebenarnya petani itu sudah mempunyai istri, namun ia memilih hidup menyendiri. Ada sebuah kejadian aneh, pada suatu hari petani itu pergi kesungai untuk memancing ikan. “Sudah lama aku tidak makan ikan, semoga hari mendapat ikan yang besar” gumam petani itu. Ia mulai melempar kali, namun secara tiba-tiba ada ikan memakan umpannya, lalu ditariklah kali itu.

Petani itu terdiam sejenak , ia takjub dengan warna sisik dan pancaran mata ikan yang begitu menakjubkan. “Tolong, jangan memakanku, aku bersedia menemanimu bila kau penuhi keinginanku ini.” suara ikan itu dan membuat petani kaget bukan main, saking kagetnya, ikan itu jatuh ke tanah dan berubah wujud menjadi seorang gadis yang anggun dan sangat cantik. “Siapa kamu?, apakah aku bermimpi.?” teriak petani itu. “Terima kasih, karena kau telah menyelamatkanku, aku juga manusia bisa seperti dirimu yang terkena kutukan.” ucap gadis itu. “Aku bersedia menjadi istrimu dan menemanimu di sini, kamu harus berjanji satu hal, jangan kau ceritakan kepada siapapun tentang asal usulku ini.” tambah gadis itu. Akhirnya mereka menjadi suami istri dan petani itu harus menepati janji, jika tidak akan terjadi malapetaka besar.

Saat pulang ke desa, penduduk kaget dengan kedatangan petani bersama seorang gadis yang sangat cantik dan anggun. Gadis itu seperti bidadari yang turun dari langit. Tak terasa satu tahun berlalu dan gadis itu melahirkan seorang anak laki-laki. Sang petani pun bahagia mendapat keturunan yang sehat dan kuat. Namun ada yang janggal, saat anak itu dewasa, ia mempunyai kebiasaan selalu lapar, makanan dirumah selalu dia habiskan sendiri. Ia tak pernah membantu pekerjaan kedua orang tuanya. Petani itu sangat marah melihat kelakuan anaknya, namun sang istri menasehati petani itu agar bisa bersabar menghadapi kelakuan anaknya itu.

Pada suatu saat, anak itu disuruh ibunya mengantarkan makanan untuk ayahnya yang sedang di sawah, namun lagi-lagi anak itu membuat ulah lagi, ia tidak mengantarkan makan itu untuk ayahnya. “Perutku sudah lapar, kenapa anakku belum datang mengantarkan makanan?” gumam petani dalam hati. Setelah lama menunggu, akhirnya petani itu pulang , Ditengah jalan ia melihat anaknya yang sedang bermain, dengan perasaan jengkel ia memanggil anak itu. “Nak, kenapa kamu tidak mengantarkan makanan untuk ayah?” tanya petani itu. “Makanannya sudah aku makan sendiri, dan aku perg bermain.” jawab anak itu.

Kesabaran memang ada batasnya, dengan emosi petani itu mencubit anaknya dan berkata, “dasar anak tak berbudi! kamu tidak patuh orang tua! Dasar anak ikan kelakuanmu juga seperti ikan!.” teriak petani itu tanpa sadar menlanggar janjinya. Tak berapa lama, istrinya datang karena mendengar teriakan itu, ia kaget karena petani telah melanggar janjinya mengucapkan kata pantangan itu. Seketika itu pula Istri dan anaknya menghilang tanpa jejak, lalu tiba-tiba bekas injakan kaki petani menyembur air yang sangat deras dan tak bisa berhenti, semakin lama semakin deras. Wilayah itu akhirnya tenggelam oleh air dan membentuk sebuah telaga yang dikenal dengan nama Danau Toba. Itulah dongeng legenda asal usul Danau Toba.

“Sebuah janji bisa memberi kekuatan jika diucapkan pada orang, waktu dan untuk alasan yang tepat. Maka peganglah janji itu walau dengan sekuat tenagamu.”

Demikianlah dongeng legenda Danau Toba. Semoga bermanfaat.

2. Cerita Rakyat : LegendaCindelaras

Jaman dahulu kala ada sebuah Kerajaan bernama Jenggala, rajanya bernama Raden Putra. Ia memiliki seorang permaisuri yang baik hati dan seorang selir yang sangat cantik. Namun, kecantikan selir raja hanya di luarnya saja, hatinya sangat dengki dan iri kepada sang permaisuri. Selir itu merencanakan sesuatu yang buruk sekali dan jahat kepada permaisuri. “Aku harus mencari akal untuk menyingkirkan permaisuri itu, karena seharusnya aku yang menjadi permaisuri di kerajaan ini,” ia berkata dalam hati.

Selir sang raja sangat licik, ia berkomplot dengan seorang tabib Kerajaan Jenggala, hingga suatu saat rencana buruk itu ia lakukan. Dengan berpura-pura sakit parah, ia diperiksa oleh tabib itu dan mengatakan bahwa tuan putri telah diracun oleh seseorang, dan ia menuduh sang permaisuri yang meracuninya. Sang Baginda pun murka mendengar kata-kata tabib itu, lalu segera memerintahkan patihnya untuk membuang permaisuri ke hutan dan meninggalkannya. Mendengar perintah itu sang patih segera bergegas menemui permaisuri dan membawanya ke hutan belantara, padahal sang permaisuri dalam keadaan hamil. Patih itu tidak tega membunuh permaisuri, karena patih itu sudah mengetahui rencana jahat selir raja yang memfitnahnya. “Putri tidak usah khawatir, saya akan melapor ke raja bahwa saya sudah membunuh putri di hutan.” kata patih yang bijak itu.

Agar sang raja tidak curiga, patih itu melumuri pedangnya dengan darah kelinci untuk meyakinkan sang raja. Raja pun puas ketika sang patih melapor telah membunuh permaisuri di hutan belantara. Hari-hari terus berlalu tak terasa sudah beberapa bulan permaisuri berada di hutan belantara, dan bayi mungil telah lahir dan diberi nama Cindelaras. Ia tumbuh menjadi anak yang cerdas dan sangat tampan. Pada suatu hari seekor ayam menjatuhkan sebutir telur, setelah beberapa minggu telur itu menetas. Cindelaras memelihara hingga anak ayam itu berubah menjadi ayam jantan yang sungguh gagah. “Kukuruyuuukkkkk…Tuanku Cindelaras, rumhanya ditengah hutan dan ayahnya Raden Putra”.

Akhirnya dengan senang hati Cindelaras memperlihatkan pada ibunya, kemudian sang Ibu menceritakan kejadian sesungguhnya mengapa mereka sampai hidup di tengah hutan hingga sekarang. Setelah mendengar cerita ibunya, Cindelaras bersikeras untuk ke kerajaan dan membongkar kejahatan yang dilakukan oleh selir raja. Ibunya memberi ijin dan Cindelaras pergi dengan ditemani ayam jantannya. Ketika diperjalanan Cindelaras bertemu dengan orang penyabung ayam dan menantangnya untuk mengadu ayamnya. Hingga akhirnya ayam Cindelaras pun tak terkalahkan. Berita itu kemudian tersebar dengan cepat dan sampai ke telinga raja Raden Putra. Ia lalu menyuruh prajuritnya untuk mengundang Cindelaras ke kerajaan.

Sesampainya di kerajaan sang raja menantang Cindelaras untuk adu ayam, namun Cindelaras memberi syarat jika ayam raja kalah maka setengah kekayaan raja akan menjadi milik Cindelaras, namun jika ayam Cindelaras kalah, ia bersedia dipancung. Akhirnya adu ayam pun dimulai, pertarungan sangat sengit tapi dalam waktu singkat ayam Cindelaras berhasil mengalahkan ayam sang raja. Sang raja pun menepati janjinya, tapi sebelumnya sang raja bertanya asal-usul Cindelaras. Tak berapa lama ayam jantan itu pun berkokok, “kukuruyuukkkk Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah hutan, ayahnya Raden Putra..”. Raja pun kaget dab bertanya. “benarkah itu??”. Dan Cindelaras pun mengakui semuanya.

Sang parih yang bijak menghadap raja dan menceritakan semuanya kepada raja. Dengan wajah murka sang raja pun menyesal dan memberi hukuman kepada selir yang telah memfitnah permaisuri. Selir itu dibuang ke hutan agar dia menyesali perbuatannya. Dengan rasa bersalah saja pun memeluk Cindelaras dan meminta maaf atas kesalahan yang pernah di lakukan. Sang permaisuri pun di jemput dari tengah hutan, dan akhirnya mereka bisa berkumpul kembali dengan bahagia. tak beberapa lama sang raja meninggal dunia, dan Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya, ia menjadi raja yang bijaksana dan adil kepada semua orang di kerajaan itu.

“Kejahatan tak akan selamanya menang, karena kebaikan akan mengalahkan semua kejahatan. Kebaikan akan berbuah manis dan kejahatan akan berbuah pahit.”

Demikianlah Dongeng Legenda Cerita Rakyat Cindelaras. Semoga bermanfaat.

3. Cerita Rakyat: Roro Anteng dan Joko Seger

Pada zaman kerajaan Majapahit yang kala itu dipimpin oleh Prabu Brawijaya (sebutan gelar raja-raja yang memerintah kerajaan Majapahit) mempunyai seorang putri yang bernama Rara Anteng. Ada pun sang putri ini sangat disayang oleh baginda Brawijaya. Karena parasnya yang sangat cantik serta luhur budi pekertinya dan menjadi teladan para remaja putri dilingkungan istana.

Hingga saat usianya menginjak dewasa, Rara Anteng berkenalan dengan seorang pemuda keturunan Brahmana, bernama Jaka Seger. Hubungan mereka sangat akrab. Ketika sang Brahman mengetahui hal itu ia menasihati putrinya. “Bagaimana mungkin kau bisa mengawininya, anakku?” Rara Anteng adalah putri raja. Pastilah baginda raja menginginkan menantunya dari kalangan bangsawan. Walaupun berkali-kali dinasihati orang tuanya Jaka Seger pun tidak surut langkah. Mengetahui keinginan keras sang anak, maka dengan perasaan yang kalut dan serba salah, akhirnya Brahmana pergi ke istana Majapahit untuk melamar Rara Anteng.

Sesampai di istana, ia pun menghadap sang Prabu Brawijaya dan langsung mengutarakan maksud kedatangannya kepada baginda raja Brawijaya. Dan perasaan khawatir lamaran itu akan ditolak jadi sirna, ketika raja memberi uraian pandangan yang tak terduga. “Mengapa tidak, Tuan Brahmana? Bukankah hal ini akan memberikan jalan keluar bagiku. Sebab sekarang ini asa persoalan yang sangat membelenggu kerajaan dengan masuknya ajaran agama Islam.” Hingga saat ini aku tidak dapat membendung apalagi memerangi penyebaran agama tersebut sebab Agama Islam pun telah datang secara baik-baik” ujar prabu Brawijaya.“Hanya saja, dari keturunanku kuharap ada yang melanjutkan kepercayaan leluhurnya. Kepercayaan kita! Kukira pasangan Jaka Seger dan Rara Anteng adalah pasangan yang tepat untuk menjadi cikal bakal penerus kepercayaan kita!.”

Maka saat itu juga Jaka Seger dan Rara Anteng dinikahkan secara sahdan mereka pun diperintahkan Prabu Brawijaya untuk ke luar dari istana Majapahit untuk melindungi diri. Maka berbondong-bondonglah mereka yang masih mengukuhi kepercayaan leluhurnya, kearah timur. Mereka berpencar mencari tempat yang mungkin sulit untuk dicapai oleh penyebar agama Islam. Jaka Seger dan Rara Anteng beserta para pengikutnya memilih Gunung Berapi. “Mungkin disinlah tempat yang cocok untuk menghindari para penyebar agama Islam” ujar Jaka Seger kepada istrinya, Rara Anteng. Dan tempat itu dinamakan Tengger yang berasal dari nama Rara Anteng dan Jaka Seger adapun gunung berapi yang telah melindungi mereka dianggap sebagai tempat keramat, dinamakan gunung Bromo. Merujuk pada nama Dewa Brahma dalam kepercayaan agama Hindu.

Mereka pun hidup berkelompok dibawah pimpinan Jaka Seger. Hidup aman dan tenteram menjauhkan diri dari pengaruh luar. Mereka juga tetap menjunjung tinggi kepercayaan leluhur mereka. Namun kebahagiaan Rara Anteng dan Jaka Seger sangatlah tidak sempurna sebab sejak lama mereka menikah belum dikaruniai seorang anak. Dengan perasaan yang putus asa kemudian mereka berdua memutuskan untuk bersemedi di puncak gunung Bromo yang telah dianggap keramat oleh orang-orang Tengger.

Sambil memohon kepada Dewata Agung agar dikaruniai keturunan.Sampai akhirnya di dalam kepundan Bromo terlihat nyala api membara disertai suara gemuruh. Keadaan itu dianggap olej Jaka Seger dan Rara anteng sebagai jawaban atas semedi mereka. “Dengar, Dinda! Dewata Agung rupanya telah mendengar bisikan hati kita. Kita harus mengucapkan syukur. Dan aku berjanji akan mengorbankan anak kita yang paling ragil (bungsu) kepada Dewa penghuni gunung ini, kepada Dewa Bromo!” Kata Jaka Seger. Tetapi janji suaminya itu dipandang berat oleh Rara Anteng dan mustahil mereka akan tega melakukannya. “Mengorbankan anak bungsu kita? Itu berarti pembunuhan! Oh, Kangmas terlalu memburu nafsu mengucapkan kaul itu!” gugat Rara Anteng. Ucapan istrinya itu benar-benar menggugah perasaan Jaka Seger. Kini baru sadar bahwa kaul (janji) itu diucapkantanpa pemikiran panjang dan jernih. Namun, ia tak mungkin menjilat kembali atas janji yang telah dicetuskan. Ia khawatir akan murka Dewa.

Kemudian, tahun-tahun berlalu mengiringi kehidupan Ki Seger dan Nyai Anteng. Mereka telah dikaruniai sepuluh anak, putra dan putri. Setelah anak yang kesepuluh itu tidak mempunyai adik lagi, maka Ki Seger menganggap bahwa anaknya yang nomor sepuluh itulah paling bungsu. Namanya Kesuma. Setelah anak-anak itu menjelang dewasa, perasaan Ki Seger semakin sedih. Ia dihantui oleh janji sumpahnya dahulu.

Lebih-lebih putra bungsu itu adalah kesayangannya. Namun sampai begitu jauh Ki Seger belum juga melaksanakan janjinya. Hingga pada akhirnya terjadilah peristiwa dahsyat. Gunung Bromo meletus, mengepulkan asap hitam. Orang-oang Tengger panik mengungsi. Namun Ki Seger dan Nyai Anteng memahami adanya bencana itu. “Dia benar-benar menagih janji sumpah kita!”kata Ki Seger pelan. Matanya kosong menatap puncak gunung Bromo yang menggegak mengeluarkan lava panas. Ucapan Ki Seger menumbuhkan rasa ingin tahu anak-anaknya. Karena tak punya pilihan lagi, maka Ki Seger terpaksa membeberkan rahasia yang selama ini terselubung.

Mendengar cerita itu, Kesuma tersenyum bangga. Sementara saudara-saudaranya yang lain merasa sedih. “Kalau begitu, relakan aku! Pengorbananku semoga diterima oleh Dewata Agung!” kata pemuda itu. “Wahai Ayah Ibu dan saudara-saudaraku!”sambung Kesuma lagi. “Aku berkorban demi keselamatan semua orang! Sepeninggalku, ingatlah hari pengorbananku ini sebagai imbalan nikmat hidup yang kalian rasakan! Permintaanku, kirimlah kebawah Bromo sebagian hasil ladang serta ternakmu! Lakukanlah saat terang bulan setiap tanggal 14 bulan Kasadha.

Kemudian dengan tenang Kesuma melangkah ke arah puncak Bromo. Disana ia menyeburkan diri kedalam kawah. Dengan pengorbanan itu, gunung Bromo reda kemarahannya. Peristiwa itu benar-benar terpahat dalam sanubari penduduk Tengger, sampai keturunannya sekarang. Hingga kini kepercayaan itu masih ada. Setiap tahun pada bulan jawa Asyura (Suro) di puncak gunung Bromo selalu diadakan upacara Kasadha.

“Janganlah berjanji bila tak bisa menepati janji itu, karena janji adalah hutang. Penyesalan tak bisa merubah semuanya”.

Demikianlah dongeng legenda Roro Anteng dan Joko Seger. Semoga bermanfaat.

4. Cerita Rakyat : Lutung Kasarung

Purbasari mempunyai kakak bernama Purbararang, Dia tak setuju jika adiknya diangkat sebagai pengganti ayah mereka. Kemarahannya sudah melebihi batas hingga timbul niat jahat untuk mencelakan adiknya. Dia meninta tolong nenek sihir untuk mengguna-guna Purbasari. Sehingga kulit Purbasari pun muncul totol-totol hitam karena guna-guna nenek sihir itu. Inilah kesempatan Pubararang untuk mengusir adiknya dan menggantikan adiknya menjadi Ratu.

Dengan sangat teganya, Purbararang mengutus seseorang untuk mengasingkan Purbasari di tengah-tengah hutan yang sepi. Begitu tiba di hutan, orang suruhan tadi mempunyai niat baik kepada Purbasari dan dibuatkan gubuk ditengah hutan untuk Purbasari. Dengan tulus orang itu menasehati Purbasari agar selalu tabah dan sabar menghadapi cobaan ini, Tuhan pasti selalu bersama Purbasari. Sang putri pun mengucapkan terima kasih kepada orang itu.

Hari-hari terus berjalan, waktu terus berlalu, selama tinggal ditengah-tengah hutan itu Purbasari memiliki begitu banyak teman, hewan-hewan dihutan lah yang menjadi teman Purbasari. Ada satu hewan yang sangat misterius yang menjadi teman Purbasari, yaitu seekor kera berbulu hitam. Namun kera itu yang paling memberi perhatian lebih kepada Purbasari. Kera itu bernama Lutung Kasarung, Ia selalu membuat hati Purbasari bahagia karena kera itu selalu memberikan bunga-bunga nan indah dan buah-buahan segar kepada Purbasari.

Pada suatu malam di bulan purnama, Lutung Kasarung menjadi aneh, ia selalu menyendiri dan bersemedi, terlihat ia sedang meminta sesuatu kepada Dewata. Keajaiban pun terjadi di tanah dekat mereka terbentuklah sebuah telaga kecil dengan air yang jernih dan segar dan ternyata telaga ini airnya bisa untuk menyembuhkan penyakit. Esok harinya Lutung Kasarung memberitahukan kepada Purbasari untuk berendam di telaga ajaib itu. Akhirnya Purbasari pun menyetujui permintaan Lutung Kasarung dan tak lama setelah berendam di telaga tersebut, kulitnya yang semula bertotol-totol hitam kini menjadi bersih dan kembali menjadi cantik. Purbasari sangat gembira sekali akhirnya guna-guna itu hilang dan ia sembuh.

Purbararang yang berada di istana penasaran dengan keadaan adiknya di hutan, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke hutan melihat adiknya. Di perjalanan Purbaararang ditemai oleh tenangannya dan para pengawalnya. Namun apa yang terjadi?, ketika sampai di hutan Purbararang bertemu dengan Purbasari dan saling berhadapan. Purbararang sungguh tak percaya melihat keadaan adiknya yang sembuh total dari guna-guna penyihir itu. Dengan hati yang dengki akhirya Purbararang tidak ingin malu, ia menhajak purbasari untuk beradu rambutnya, siapa yang punya rambut panjang ia yang menang. Pada awalnya Purbasari menolak ajakan itu, namun karena desakan kakaknya, akhirnya Purbasari meladeni tantangan itu dan ternyata rambut Purbasari lebih panjang.

Purbararang pun tak mau kalah, sekarang dia mengajak untuk mengadu ketampanan tunangannya. Purbasaru pin terlihat gelisah, akhirnya ia manarik Lutung Kasarung, ia melompat-lompat menenangkan Purbasari. Purbararang mengejek dengan tertawa terbahak-bahak. Namun keajaiban kembali terjadi, ketika Lutung Kasarung melakukan semedi, tiba-tiba ia berubah menjadi Pemuda yang gagah dan tampan, bahkan lebih tampan dari tunangan Purbararang. Semua yang berada di situ terkejut dan senang dengan keajaiban itu.

Akhirnya Purbararang mengaku kalah dan meminta maaf kepada Purbasari, memohon untuk tidak dihukum. Purbasari dengan baik baik memafkan kakaknya dan mereka pun kembali ke istana. Setelah kejadian itu Purbasari menjadi seorang Ratu yang di dampingi oleh pemuda gagah dan tampan yang tak lain adalah seekor lutung yang setia menemaninya dihutan.

“Kebenaran pasti akan menang, dan kebatilan pasti akan kalah. hindari sifat iri dan dengki, karena itu akan merusak kualitas hidupmu.”

Demikianlah Dongeng Legenda Cerita Rakyat. Semoga bermanfaat.

5. Cerita Rakyat: Legenda Keong Mas

Raja Kertamarta adalah raja di Kerajaan Daha, sebuah Kerajaan yang sangat subur dan makmur. Raja Kertamarta memiliki dua orang putri, putri pertama bernama Dewi Galuh dan putri kedua bernama Candra Kirana. Kedua putri itu cantik bak bidadari dan juga baik hati. Candra Kirana sudah ditunangkan dengan Raden Inu Kertapati yang juga putra mahkota Kerajaan Kahuripan.

Melihat saudaranya sudah ditunangkan, Dewi Galuh Ajeng merasa iri kepada Candra Kirana, karena Dewi Galuh Ajeng juga mencintai Raden Inu Kertapati. Segala cara dia tempuh untuk memisahkan saudaranya itu. Dewi Galuh Ajeng menemui seorang nenek sihir untuk mencelakai Candra Kirana, ia juga memfitnah Candra Kirana sehingga di usir dari Kerajaan Daha. Candra Kirana berjalan tanpa arah di tepi pantai, nenek sihir jahat itu tiba-tiba muncul dan menyihir Candra Kirana menjadi keong mas lalu membuangnya di laut. Sihir itu akan sirna bila keong mas bertemu dengan tunangannya suatu saat nanti.

Pada suatu hari yang cerah, ada seorang nenek sedang mencari ikan dengan jaring, tiba-tiba ada seekor keong yang menyangkut di jaring nenek itu, ternyata itu adalah keong mas. Nenek itu membawa pulang keong mas, esoknya lagi nenek itu kembali mencari ikan, namun tak satu ikan pun tertangkap. Dengan rasa capek dan kecewa, nenek itu pulang kerumah, betapa kagetnya ketika sampai rumah secara tiba-tiba makanan enak sudah tersedia disana. Rasa penasaran muncul di benak nenek itu.

“Siapa yang telah memasak ini semua.?” kata nenek dalam hati.

Esok harinya, nenek itu pura-pura pergi mencari ikan di laut. Dengan mengendap-endap, nenek itu kembali ke rumah dan mengintip dari luar. Betapa kagetnya nenek itu melihat keong mas berubah menjadi gadis yang sangat cantik dan sedang memasak untuk nenek itu.

“Siapakah kamu gadis cantik?” tegur nenek.

“Aku adalah Candra Kirana, putri Kerajaan Daha. Semua ini ulah saudaraku, ia iri kepadaku dan menyihirku menjadi keong mas” jawab keong mas.

Setelah menjawab pertanyaan si nenek, Candra Kirana berubah lagi menjadi keong mas. Nenek itu tertegun dan kagum melihat kejadian itu.

Sementara di Kerajaan, Pangeran Inu Kertapati bingung mengapa tiba-tiba Candra Kirana menghilang. Ia tak tinggal diam dan mencari keberadaan Candra Kirana dengan menyamar menjadi rakyat miskin. Diam-diam nenek sihir berubah menjadi seekor gagak dan mengikuti Raden Inu Kertapati. Ketika ditengah perjalanan Raden Inu Kertapai kaget melihat burung gagak yang mengetahui tujuannya dan bisa berbicara bahasa manusia. Akhirnya Raden Inu Kertapati menuruti arahan burung gagak itu ke arah yang salah. Raden Inu Kertapati terus berjalan ke arah yang ditunjukkan gagak tadi, kemudian dia bertemu dengan seorang kakek tua yang kelaparan. Raden Inu Kertapati menolong kakek itu dan memberinya makan. Ternyata kakek tua itu adalah orang sakti yang baik hati dan menolong Raden Inu Kertapati dari pengaruh burung gagak itu.

Dengan tongkat saktinya, burung gagak itu dipukul dan menghilang menjadi kepulan asap. Setelah itu Raden Inu Kertapati di beri tahu untuk pergi ke desa dadapan. Ia berjalan berhari-hari menuju kesana, lalu bekal Raden Inu Kertapati habis dan dia melihat sebuah gubug untuk meminta sedikit air. Betapa terkejutnya Raden Inu Kertapati melihat Candra Kirana sedang memasak di gubug itu. Hari yang dinanti-nanti telah tiba, akhirnya Candra Kirana bertemu tunangannya dan sihir itu pun hilang.

Nenek pemilim gubug itu datang, Candra Kirana memperkenalkan tunangannya kepada nenek. Setelah itu Candra Kirana diboyong ke istana oleh Raden Inu Kertapati. Ketika sampai di istana, Candra Kirana menceritakan semua perbuatan Galuh Ajeng kepada Raja Kertamarta. Akhirnya Baginda pun meminta maaf kepada Candra Kirana. Galuh Ajeng mendapat hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Karena takut, Galuh Ajeng kabur dari istana melarikan diri ke hutan, ia terperosok dan jatuh ke jurung yang dalam. Pada Akhir cerita, Raden Inu Kertapati dan Candra Kirana melangsungkan pernikahan. Mereka memboyong nenek baik hati itu ke istana dan hidup bahagia di sana.

“Jauhkan rasa iri, karena rasa iri adalah penyakit yang dapat menghancurkan hidup kita. Jadilah pribadi yang baik dan jauh dari sifat iri dan dengki.”

Demikianlah dongeng keong mas. Semoga bermanfaat.

6. Cerita Rakyat: Legenda Bawang Merah Bawang Putih

Pada jaman dulu, ada sebuah desa yang sangat subur. Hidup seorang gadis yang tinggal bersama ibu tiri dan kakak tirinya, gadis itu bernama bawang putih. Ia adalah seorang gadis cantik yang rajin, berbeda dengan kakak tirinya yang malas. Semua pekerjaan rumah yang mengerjakan adalah bawang putih. Ibu tirinya sangat kejam padanya, sedikit kesalahan yang bawang putih lakukan, pasti langsung di marahi. Namun bawang putih tetap sabar menjalani semua ini.

Sebenarnya bawang putih adalah anak seorang yang kaya raya, ibu kandungnya sangat menyayanginya. Tapi takdir berkata lain, setelah ibu kandungnya meninggal dunia, ayah nya menikah lagi dengan janda beranak satu yang tak lain tetangganya sendiri. Ketika sang ayah pergi untuk berdagang, perlakuan ibu tirinya selalu kasar. Namun ketika ayahnya dirumah, perlakuan ibu tirinya sangat baik, begitu pun juga dengan kakak tirinya.

Pada suatu hari, ayah bawang putih sakit keras dan meninggal dunia. Perlakuan ibu tirinya pun semakin buruk, bahkan lebih kasar dari sebelumnya. Bawang putih terlihat kurus dan pucat, ia menangis merindukan ibu dan ayah kandungnya yang kini telah tiada, ia merindukan kasih sayang mereka berdua seperti dulu lagi. Sangat malang nasib bawang putih.

Pagi hari yang cerah, namun tak secerah hati bawang putih, ibu tiri menyuruh mencuci pakaian di sungai, bawang putih tidak berani menolaknya walau sebenarnya ia kurang sehat hari ini. Bawang putih berangkat ke sungai, pada saat mencuci pakaian, tiba-tiba salah satu pakaian ibu tirinya terseret arus sungai yang deras, bawang putih berjalan menyusuri sungai untuk mencari pakaian yang hanyut itu.

“Aku harus menemukan pakaian ibu, jika tidak aku pasti akan mendapat hukuman” gumam bawang putih.

Ia berjalan cukup jauh di tepi sungai, tak tampak juga pakaian yang hanyut itu. Kemudian bawang putih bertemu dengan seorang kembala kambing, ia memberi salam dan bertanya.

“Selamat siang paman, apakah paman melihat pakaian yang terseret arus sungai ini?” tanya bawang putih.

“Iya, Nak. Pakaian itu terbawa arus sungai yang deras ke aras barat” jawab kembala kambing itu.

“Terima kasih, paman. Saya pamit dulu mau pergi mencarinya” ucap bawang putih.

Bawang putih kembali menyusuri sungai ke arah barat sesuai petunjuk kembala kambing tadi. Setelah berjalan menyusuri sungai, ia bertemu dengan seorang kakek tua yang sedang memandikan kerbaunya di sungai.

“Selamat sore, kakek. Apakah kakek melihat pakaian yang terseret arus sungai ini?” tanya bawang putih.

“Iya, nak. Kakek tadi melihat pakaian itu, berhubung arus sungai yang deras, kakek tidak bisa mengambilnya, cobalah kamu cari mengikuti arus sungai ini, nak.” jawab Kakek itu.

“Terima kasih, kek. Saya pamit dulu mau mencarinya” ucap bawang putih.

Kemudian bawang putih kembali berjalan menyusuri sungai, ia terus mencari dan mencari pakaian itu, ia takut jika dimarahi ibu tirinya bila tahu pakaiannya hilang. Bawang putih tak bisa membayangkan bila pulang kerumah pasti akan dimarahi dan dipukul ibu tirinya. Tak terasa hari sudah mulai gelap, bawang putih berjalan sudah cukup jauh, lalu ia bertemu seorang nenek-nenek tinggi besar yang sedang mencuci sayur di sungai. Dengan perasaan takut bawang putih memberanikan diri bertanya kepada nenek itu.

“Selamat malam, nek. Apakah nenek melihat pakaian yang terseret arus sungai ini?” tanya bawang putih.

“Iya, nak. Aku melihat pakaian itu terseret arus sungai dan aku mengambilnya, sekarang pakaian itu aku simpan di gubugku” jawab nenek itu.

Bawang putih sangat lega mendengar jawaban nenek itu, ia berpikir bahwa kebaikan seseorang bukan di ukur dari keindahan wajahnya, namun kebaikan seeorang diukur dari hatinya. Nenek itu sangat menyeramkan sekali, namun nenek itu baik dan ramah, berbeda dengan ibu dan kakak tirinya, walau wajahnya cantik namun hatinya sangat busuk dan jahat.

“Terima kasih, nek sudah menemukan pakaian yang aku cari” ucap bawang putih.

“Hari sudah mulai gelap, menginaplah di gubugku.” ajak nenek itu.

“Terima kasih, nek. Apakah tidak merepotkan nenek?” tanya bawang putih.

“Aku hidup sendiri, setelah sekian lama baru hari ini ada yang menemaniku” jawab nenek itu.

Mereka berjalan ke gubug nenek itu, bawang putih sebenarnya sangat takut sekali, karena semua barang disini berasal dari tulang belulang. Bawang putih hanya bisa pasrah kepada Tuhan. Jika sesuatu terjadi pada dirinya, ia ikhlas. Di gubug itu, bawang putih menanak nasi dan memasak untuk nenek. Karena kebiasan bawang putih dirumah yang rajin, nenek sangat menyukai bawang putih.

Keesokan harinya, bawang putih bangun pagi-pagi sekali. Ia harus pulang karena ibu dan kakak tirinya pasti menunggunya dirumah. Bawang putih pamitan sama nenek, sebelum pulang, ia disuruh memilih sebuah labu kecil dan labu besar. Bawang putih memilih labu kecil lalu ia mengucapkan terima kasih kepada nenek dan pamit pulang.

Setibanya dirumah, ibu dan kakak tirinya sudah menunggu. Ibu tirinya langsung memarahi bawang putih, ketika keranjang tempat pakaian itu diambil, ibu tirinya menemukan sebuah labu kecil.

“Dari mana kamu mendapatkan labu ini?, kamu mencuri ya?” bentak ibu tiri.

Akhirnya labu kecil iti dibelah, dan isinya adalah emas dan permata yang sangat indah, hingga sinar permata itu memenuhi rumah mereka. Bawang merah dan ibunya sangat senang sekali, kemudian ia memaksa bawang putih untuk menceritakan kejadian sesungguhnya. Emas dan perhiasan itu diambil semua oleh bawang merah dan ibunya. Setelah mendengar cerita dari bawang putih, mereka pun membuat rencana licik. Kali ini bawang merah berpura-pura mencuci pakaian di sungai dan menghanyutkan salah satu cuciannya. Kemudain bawang merah berjalan menyusuri sungai untuk mencarinya, rencana itu dibuat sedemikian rupa mirip dengan cerita bawang putih.

Pada akhirnya bawang merah bertemu dengan nenek itu. Lalu ia bertanya seprti bawang putih kemarin. Rencana mereka pun berhasil, bawang merah disuruh menginap di gubug nenek itu. Namun karena bawang merah adalah gadis pemalas, ia tidak bisa masak, ia hanya terdiam melihat nenek sedang memasak makanan.

Keesokan harinya, bawang merah pamit pulang. Namun nenek itu tidak memberikan labu seperti bawang putih.

“Mana labu untukku, nek?” tanya bawang merah.

“Labu apa yang kamu maksud?” jawab nenek itu.

“Seperti kemarin nenek memberikan sebuah labu pada gadis yang menginap digubug nenek” ucap bawang merah.

“Ambillah labu itu di dapur, pilihlah salah satu” jawab nenek itu.

Bawang merah pun mengambil labu yang besar, tanpa mengucap terima kasih, bawang merah langsung pulang. Ia sangat bahagia rencana yang ia buat bersama ibunya berhasil, bawang merah berpikir ini labu besar itu adalah emas dan permata yang lebih banyak.

Setibanya dirumah, bawang merah dan ibunya membelas labu besar itu, namun ternyata isinya bukan emas dan permata, melainkan binatang berbisa seperti kalajengking, lipan besar, ulae berbisa, dll. Mereka berdua kaget lalu menjerit, labu besar itu dilempar hingga binatang berbisa didalamnya keluar dan semakin banyak. Bawang merah dan ibunya akhirnya mati digigit binatang berbisa itu. Tubuh mereka sampai kaku dan kebiru-biruan.

Akhir Cerita Bawang Merah Bawang Putih

Akhirnya bawang putih hidup bahagia, perhiasan yang diambil oleh ibu tirinya semua kembali ke bawang putih. Karena bawang putih sekarang kaya, ia tetap hidup sederhana dan tak lupa membantu para tetangga yang membutuhkan.

Catatan :

“Tidak semua ibu, ayah, saudara tiri itu jahat, cerita ini hanya dongeng. Jadi kita harus bijak dan lebih cermat dalam mendongeng kisah ini untuk anak-anak. Banyak juga dongeng yang menceritakan kebaikan ibu, ayah dan saudara tiri.”

Demikianlah Cerita Bawang Merah Bawang Putih. Semoga bermanfaat.

7. Cerita Rakyat : Ande-Ande Lumut

Pada zaman dulu disebuah desa, hiduplah seorang janda yang miskin, janda itu bernama Mbok Roro Dadapan. Ia memiliki seorang anak laki-laki yang sangat tampan dan gagah yang bernama Ande-Ande Lumut. Banyak gadis yang ingin menjadi istri Ande-Ande Lumut, namun Ande-Ande Lumut menolaknya. Ia belum siap untuk menikah karena ingin membahagiakan Ibunya Dulu.

Pada suatu saat Ande-Ande lumut ditanya Mbok Roro Dadapan perihal lamaran gadis-gadis yang menjadi istrinya.

“Anakku, Ande-Ande Lumut. Banyak gadis yang ingin menjadi istrimu, mengapa kamu menolaknya, anakku?” tanya Mbok Roro Dadapan.

“Saya belum memikirkan tentang penikahan, bu. Saya ingin bekerja dulu untuk membahagiakan ibu” jawab Ande-Ande Lumut.

“Semua terserah kamu, nak. Ibu hanya ingin yang terbaik untuk kamu” ucap Mbok Roro Dadapan.

Sementara itu di desa seberang yang bernama desa Karang Wulusan, hiduplah seorang janda kaya yang bernama Nyi Menah. Desa Wulusan terpisah sungai yang besar dengan desa Mbok Roro Dadapan. Nyi Menah memiliki empat anak perempuan yang cantik jelita, keempat anak Nyi Menah bernama Klenting Merah, Klenting Hijau, Klenting Putih dan Klenting Kuning. Klenting Kuning adalah anak angkat Nyi Menah, sebenarnya Nyi Menah sangat menyayangi Klenting Kuning, namun ketiga saudaranya tidak suka kepada Klenting Kuning.

Nyi Menah pulang dari pasar, bawaan nya banyak sekali. Ketiga anaknya itu hanya diam dan malah menyuruh Klenting Kuning untuk membawa belanjaan Nyi Menah.

“Klenting Kuning, cepat bantu ibu, bawakan semua belanjaannya” perintah Klenting Merah.

“Anak-anakku, berkumpullah kesini. Didesa seberang ada seorang pemuda tampan bernama Ande-Ande Lumut sedang mencari istri, bergegaslah kesana, siapa tahu salah satu diantara kalian terpilih menjadi istrinya” ucap Nyi Menah.

Ketiga gadis itu berangkat, mereka saling bersaing untuk meluluhkan hati Ande-Ande Lumut dan menjadi istrinya. Sampailah mereka di tepu sungai besar, mereka mencari cara untuk menyebrangi sungai itu. Tiba-tiba mencullah Yuyu Kangkang dan bertanya kepada mereka.

“Hai gadis-gadis cantik, kalian mau kemana?” tanya Yuyu Kangkang.
“Kami mau menyebrang, apa kamu bisa menolong kami?” jawab Klenting Merah.

“Tentu saja bisa, namun ada syaratnya” ucap Yuyu Kangkang.

“Apa itu syaratnya?” tanya Klenting Merah.

“Jika sudah sampai di seberang, aku akan mencium kalian satu persatu” jawan Yuyu Kangkang.

Mereka akhirnya berunding, memang tak ada jalan lain untuk menyeberang ke desa sebelah selain pertolongan si Yuyu Kangkang. Mereka sebenarnya tak setuju dengan syarat itu, namun maun bagaimana lagi, akhirnya mereka setuju dengan syarat Yuyu Kangkang.

Dengan semangat Yuyu Kangkang menyeberangkan ketiga gadis itu. Setelah sampai di seberang, Yuyu Kangkang pun Mencium satu persatu gadis itu. Walau merasa jijik, mereka tetap harus menepati janji mereka kepada Yuyu Kangkang, karena didalam pikiran mereka harus segera bertemu dengan Ande-Ande Lumut.
Setelah sampai di rumah Mbok Roro Dadapan, Ketiga gadis itu segera masuk dan memperkenalkan diri satu persatu.

“Nama saya Klenting Merah, saya anak tertua dari ketiga saudara saya ini” ucap Klenting Merah sambul berjalan lenggak-lenggok di depan Ande-Ande Lumut.

Mbok Rondo Dadapan melantukan sebuah lagu, ” Anakku, si Ande-Ande Lumut, Gadis cantik ingin melamarmu, temuilah. Gadis cantik rupawan itu bernama Klenting Merah”.

Ande-Ande Lumut menyahut, “Duh ibu, Saya tidak mau. Walau cantik bekasnya si Yuyu Kangkang.”

Klenting merah sangat kecewa dengan jawaban Ande-Ande Lumut, begitu juga dengan klenting hijau dan putih.

Sementara, Klenting Kuning segera menyelesaikan pekerjaan rumahnya, lalu ia segera menyusul ketiga saudaranya itu. Sampailah Klenting Kuning di tepi sungai besar.

“Ada lagi gadis cantik yang ingin menyeberang, naiklah keatas punggungku aku akan membantumu, tapi dengan syarat kamu harus aku cium jika nanti sudah sampai di seberang” ucap Yuyu Kangkang.

Tanpa berkata sepatah kata, Klenting Kuning langsung naik ke atas punggung Yuyu Kangkang. Setelah hampir sampai di seberang, Klenting Kuning mengoles pipinya dengan kotoran ayam yang sudah ia persiapkan dirumah. Setelah sampai, Yuyu Kangkang menagih janjinya.

“Kita sudah sampai, sekarang aku harus mencium pipimu” ucap Yuyu Kangkang.

“Silahkan, aku takkan mengingkati janji” jawab Klenting Kuning.

Ketika Yuyu Kangkang ingin mencium Klenting Kuning, tiba-tiba ia langsung muntah-muntah.

“Bau sekali kamu, hueeekk..aku tak sudi menciummu, sekatang cepat enyah dariku” ucap Yuyu Kangkang.

Klenting Kuning segera berlari melanjutkan perjalanannya di rumah Ande-Ande Lumut. Setelah sampai dirumah Ande-Ande Lumut, tiba-tiba ada suara dari dalam rumah.

Baca juga : Cerita Rakyat Bawang Merah Bawang Putih

“Adinda Candra Kirana, lama aku mencarimu, akhirnya aku menemukanmu” kata Ande-Ande Lumut.

Sebenarnya Ande-Ande Lumut adalah Pangeran Inu Keratapati yang menyamar. Ia pun menghampiri Klenting Kuning. Akhirnya Ande-Ande Lumut dan Klenting Kuning menikah dan hidup bahagia.

Demikianlah Kisah Ande-Ande Lumut. Semoga bermanfaat.

8. Cerita Legenda : Roro Jonggrang Candi Prambanan

Di zaman dulu kala ada seorang raksasa yang sakti mandraguna, ia adalah seorang raja yang memimpin di Prambanan, nama raja tersebut adalah Prabu Boko. Prabu Boko mempunyai seorang puteri yang cantik bernama Roro Jonggrang. Di daerah itu, kerajaan Boko berbatasan langsung dengan kerajaan Pengging.

Pada suatu hari, raja Pengging ingin memperluas wilayah kerajaannya, dengan cara merebut wilayah perbatasan kerajaan Boko. Lalu raja Pengging memerintahkan putranya Bandung Bondowoso untuk menyerang kerajaan Prambanan yang langsung dipimpin oleh Raja Boko. Kerajaan Boko berjasil dikalahkan, bahkan raja Boko pun ikut terbunuh di perang itu.

Setelah berhasil merebut kembali wilayahnya, Bandung Bondowoso tinggal di istana Prambanan. Ia jatuh cinta kepada Roro Jonggrang, dan meminta Roro Jonggrang untuk menjadi istrinya. Roro Jonggrang menolak lamaran Bandung Bondowoso karena ia telah membunuh ayahnya. Banyak cara yang dipakai Roro Jonggrang untuk menolak lamaran Bandung Bondowo secara halus.

Akhirnya Roro Jonggrang menemui dan berbicara dengan Bandung Bondowoso, “Baiklah, lamaranmu aku terima. Namun, ada syarat yang harus kamu penuhi, aku ingin dibuatkan seribu candi dan dua sumur dalam waktu satu malam.”

Untuk orang biasa syarat tersebut sangat mustahil untuk dilakukan, Bandung Bondowoso langsung menyanggupinya tanpa berpikir panjang. Dikumpulkanlah makhluk halus anak buah Bandung Bondowoso. Tak lama kemudian mereka langsung melakukan apa yang diperintahkan Bandung Bondowoso. Mereka bekerja sangat cepat sekali, bahkan seribu candi dan dua sumur hampir selesai sebelum waktunya.

Dengan rasa khawatir. Roro Jonggrang mengamati dari jauh. Roro Jonggrang berpikir keras berusaha untuk mencari menggagalkan usaha Bandung Bondowoso. Lalu Roro Jonggrang memanggil seluruh dayang-dayangnya dan langsung memerintah agar membakar jerami dan menabuh lesung malam ini juga. Api dari jerami yang dibakar membuat suasana menjadi terang serta suara tabuhan lesung membuat kaget para makhluk-makhluk halus itu. Para makhluk-makhluk halus itu mengira hari sudah pagi. Akhirnya mereka pun langsung pergi meninggalkan Bandung Bondowoso dan sumur serta candi yang belum sepenuhnya selesai. Bandung Bondowoso memanggil mereka kembali namun mereka tidak memperdulikannya.

Roro Jonggrang menemui Bandung Bondowoso lalu berkata, “Bandung, waktumu sudah habis. Bagaimana dengan syarat yang aku ajukan?”. Saat itu Bandung Bondowoso sangat marah, sebab Roro Jonggrang berbuat curang untuk menggagalkan usahanya itu. Tetapi Bandung Bondowoso berusaha untuk tetap tenang , “Candi yang kau minta sudah aku selesaikan. Silahkan kau menghitungnya.”

Roro Jonggrang dan dayang-dayangnya mulai menghitung candi yang sudah dibuat oleh Bandung Bondowoso. Namun ternyata hanya sembilan ratus sembilan puluh sembilan candi yang baru selesai.“Wahai Bandung, ternyata tidak genap seribu candi yang kau buat, dan kau gagal,” kata Roro Jonggrang.

Bandung Bondowoso benar-benar sangat marah sekali dan berkata kepada Roro Jonggrang, ” Kalau saja kau tidak curang, seribu candi itu pasti selesai sebelum waktunya.”. “Baiklah, karena kau menginginkan candi yang ke seribu. Aku akan memenuhinya, kau lah candi yang ke seribu itu Roro Jonggrang, berubahlah kau menjadi candi!” teriak Bandung Bondowoso mengutuk Roro Jonggrang.

Tak beberapa lama, Roro Jonggrang berubah menjadi patung batu, Dan hingga saat ini patung batu Roro Jonggrang bisa kita lihat di ruangan utama candi Prambanan.

9. Cerita Legenda : Ciung Wanara

Ada sebuah kerajaan yang sangat makmur, kerajaan itu bernama kerajaan Galih Pakunan. uang dipimpin oleh seorang raja bernama Raden Barma Wijaya Kusuma. Rakyat sangat mencintai sang raja, karena kepemimpinannya yang adil dan bijak. Raja selalu mengutamakan kepentingan rakyat, selalu memberi solusi yang terbaik untuk rakyat kerajaan Galih Pakunan.

Raja memiliki patih yang bernama Uwak Batara Lengser, dan juga memiliki dua orang permaisuri, ialah Dewi Naganingrum dan Dewi Pengreyep. Kehidupan kerajaan pun berjalan dengan tenang dan damai.

Namun pada suatu hari, kedua permaisuri tersebut hamil dalam waktu yang bersamaan. Hingga beberapa saat waktu berjalan, Dewi Pengreyep ternyata melahirkan bayi terlebih dulu, ia melahirkan bayi laki-laki yang sangat tampan dan diberi nama Hariangbanga. setelah beberapa hari, Dewi Naganingrum pun juga melahirkan seorang bayi yang tak kalah tampan dari Hariangbanga.

Dewi Pengreyep tidak suka dengan kelahiran bayi Dewi Naganingrum, karena dianggap menjadi saingan putranya untuk menjadi raja tunggal di kerajaan Galih Pakunan dan menguasai seluruh harta kerajaan. Ternyata ia menyusun rencana jahat untuk menukar bayi Dewi Naganingrum dengan seekor anak anjing yang masih kecil.

Seluruh isi kerajaan gempar karena hilangnya bayi Dewi Naganingrum. Raja sangat gelisah dan sedikit tidak percaya karena permaisuri Dewi Naganingrum melahirkan seekor anjing. Dengan perasaan marah, raja memerintahkan sang patih untuk membunuh Dewi Naganingrum di tengah hutan.

Patih Uwak Batara Lengser tidak tega membunuh Dewi Naganingrum, ia membuat rencana kalau seakan-akan permaisuri sudah dibunuhnya. Kemudian sang patih mengajak Dewi Naganingrum ke hutan dan membuatkan sebuah gubuk disana.

“Permaisuri, maafkan hamba. Hanya ini yang bisa hamba lakukan untuk menyelamatkan permaisuri” ucap Uwak Batara Lengser.

“Terima kasih, patih. kamu tidak membunuhku. Aku tahu, ada seseorang yang ingin mengancurkanku dan anakku” jawab Dewi Naganingrum.

Di tengah hutan, Dewi Naganingrum hidup sendirian. Ia berharap, anak kandungnya yang hilang segera ditemukan. Karena ia sangat rindu sekali dengan anak itu. Sementara itu sang patih mengahadap raja dan melapor bahwa ia sudah membunuh Dewi Naganingrum dengan menunjukkan pedang yang berlumuran darah binatang. Sang raja pun percaya dengan patih Uwak Batara Lengser.

Bayi Dewi Naganingrum yang dibuang dibuang oleh Dewi Pengreyep, ditemukan oleh sepasang suami istri yang sudah tua dan tidak memiliki anak. Mereka menemukan bayi itu ditepi sungai saat hendak mencari ikan, alangkah bahagianya kedua suami istri itu menemukan bayi yang tampan dan lucu.

Waktu terus berjalan, Bayi itu telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah rupawan dan diberi nama Ciung Wanara. Ia ingin sekali mengembara ke Galih Pakunan, namun tidak di ijinkan oleh kedua orang tua angkatnya. Ciung Wanara tetap mambujuk agar di ijinkan kesana. Sebelum berangkat Ciung Wanara bertanya siapakah sebenarnya orang tua kandungnya, orang tua angkat Ciung memberitahu bahwa Ayah kandungnya adalah Raja Galuh Pakunan dan Ibunya adalah Dewi Naganingrum yang telah dibuang di hutan.

Berangkatlah Ciung Wanara ke Galuh Pakunan, ia membawa ayam jantan kesayangannya. Sesampainya disana, Ciung Wanara menantang ayam milik raja untuk di adu. Raja pun menyetujuinya.

“Bila ayam hamba kalah, hamba rela melepas nyawa hamba. Namun bila ayam hamba menang, hamba minta separuh kerajaan untuk hamba” ucap Ciung Wanara.
“Baiklah anak muda, saya setujui permintaanmu” jawab raja.

Setelah itu ayam mulai di sabung, pertarungan sangat seru. Ayam jantan milik raja tampak kewalahan melawan ayam jantan milik Ciung Wanara. Dan pada akhirnya, ayam jantan milik raja kalah.

“Ampun baginda, ayam jantan hamba berhasil menang” ucap Ciung Wanara.

“Siapakah nama kamu, anak muda?” tanya raja.

“Hamba Ciung Wanara, dari desa seberang” jawab Ciung Wanara.

“Apa sebenarnya tujuanmu datang kemari?” tanya raja.

“Ampun baginda, hamba memiliki telur ayam yang selama setahun induknya mengandung namun telur itu dibuang sebelum induk ayam melihat telur itu” jawab Ciung Wanara.

mendengar kata-kata Ciung wanara, raja tiba-tiba teringat dengan permaisuri Dewi Naganingrum. Raja pun menepati janjinya kepada Ciung Wanara untuk memberi separuh kerajaan dan membaginya dengan Raden Hariangbanga.

Setelah beberapa saat, Ciung Wanara berhasil mengungkap kejahatan Dewi Pengreyep dan menjebloskannya ke penjara kerajaan, mendengar berita itu, Raden Hariangbanga marah, ia menantang Ciung Wanara untuk bertarung. Pertarungan kakak beradik itu tak bisa dihindari. Raden Hariangbanga harus mengakui kesaktian Ciung Wanara, ia kalah dalam pertarungan.

Sejak saat itu, kerjaan galuh terbagi menjadi dua. Ciung Wanara berhasil menjemput ibu kandung nya di hutan, kini mereka kembali bersatu. Sementara orang tua angkat Ciung Wanara diajak ke kerajaan dan hidup disana.

“Jauhi sifat iri dan dengki, karena itu akan menghancurkanmu. Kejahatan walau ditutupi serapat apapun suatu saat pasti akan terungkap.”

10. Cerita Legenda : Malin Kundang

Di sebuah desa wilayah pesisir daerah Sumatra, hiduplah keluarga miskin. Salah satu anaknya bernama Malin Kundang. Rumah tempat mereka tinggal sangat memprihatinkan sekali. Pakaian yang mereka kenakan apa adanya dan penuh tambalan. Setiap hari bila mendapat tangkapan ikan mereka makan, namun bila tidak mendapat ikan mereka tidak makan, sehingga tubuh mereka kurus kering kekurangan makanan.

Malin kundang sebenarnya adalah pemuda yang tampan, cuma pakaiannya yang kusut dan kotor, terlihat jelek dan kumuh. Tak tahan dengan kemiskinan yang berkepanjangan, Malin Kundang akhirnya memutuskan pergi merantau ke negeri seberang untuk bekerja mencari uang.

“Bu, Malin mau pergi merantau demi keluarga kita” ucap Malin.

“Nak, bukannya ibu melarang. Ibu takut kamu seperti ayahmu yang sampai sekarang belum kembali dari perantauan” jawab ibu.

“Malin berjanji, bu. Malin akan kembali bila sudah mendapat uang di perantauan” bujuk Malin.

“Bila itu keingananmu, ibu tak bisa berbuat apa-apa. Ibu hanya bisa merestui dan mendoakanmu semoga kamu berhasil di perantauan” jawab Ibu.

Esok harinya, Malin Kundang menuju dermaga ditemani ibunya, ia akan berangkat merantau di negeri seberang. Dengan berat hati, ibu melepas kepergian Malin Kundang.

“Malin berangkat dulu, bu. Mohon doa restu dari ibu” ucap Malin sambil memeluk ibunya.

“Hati-hati di perjalananmu, nak. Jaga diri baik-baik dan jangan lupa kembali karena ibu sendirian disini” jawab Ibu sambil menangis.

Malin Kundang berangkat naik kapal besar. di perjalanan ia masih teringat nasehat sang ibu. Malin tampak gelisah meninggalkan ibunya sendirian di kampung. Di kapal, Malin berpikir nanti kalau sudah sampai di kota ia akan kerja apa.

Setelah sampai di kota, Malin berjalan kesana kemari untuk mecari pekerjaan. Ia mendapat pekerjaan membantu berdagang dipasar, sedikit demi sedikit ia mempelajari cara berdagang. Ia lalu mengumpulkan modal dan membuka usaha dagang sendiri.

Setelah beberapa tahun, usaha dagang Malin Kundang berkembang pesat dan berhasil, ia kini menjadi saudagar yang kaya raya. Tampaknya ia belum berpikir untuk kembali ke kampung. Di kota, Malin Kundang menikah dengan seorang wanita yang cantik jelita. Setelah beberapa tahun menikah, Istri Malin ingin sekali berlayar ke kampung halaman Malin.

Dan mereka pun berangkat naik kapal besar milik Malin Kundang. Setelah tiba di dermaga dekat kampung halaman Malin, ada tetangga yang melihat dan memberitahukan kepada ibunya kalau Malin Kundang sudah menjadi orang kaya dan sudah pulang.

“Bu, anakmu sekarang sudah menjadi orang kaya. Malin sudah pulang” teriak tetangga Malin.

Mendengar berita itu, Ibu Malin langsung berjalan menuju dermaga. Sebuah kapal besar terlihat sudah menepi. Setelah mendekat, ada seseorang yang turun dari kapal. Ibu memandang ke arah orang itu.

“Apakah benar dia Malin Kundang anakku?” tanya ibu dalam hati.

Dengan melihat bekas luka ditangan kanan orang itu, ibu yakin kalau itu benar si Malin Kundang.

“Malin Kundang anakku, mengapa lama kau tak memberi kabar kepada ibumu ini, nak?” ucap ibu.

“Kamu siapa?, jangan ngaki-ngaku jadi ibuku. Dasar pengemis” teriak Malin Kundang.

Mendengar ucapan itu, ibu Malin Kundang menangis dan bersedih, anaknya yang dinanti-nanti telah lupa dan durhaka kepada ibunya. Sementara istri Malin bertanya kepada Malin.

“Wanita tua itu benar ibu kamu?” tanya istri Malin.

“Dia bukan ibuku!, dia hanya seorang pengemis yang mengaku jadi ibuku untuk memperoleh harta yang aku miliki” jawab Malin Kundang.

Ibu Malin Kundang hanya bisa memandangi anaknya yang durhaka, dengan diliputi hati yang kecewa dan marah karena tidak diakui dan dihina oleh anaknya, Ibu Malin Kundang berdoa dengan menengadahkan kedua tangannya.

“Ya Tuhan, bila memang benar pemuda ini anak kandungku. Aku bersumpah, jadikanlah dia batu sekarang juga” doa ibu Malin Kundang.

Tak berapa lama tiba-tiba angin berhembus makin kencang, badai besar melanda saat itu juga, kapal Malin Kudang terhempas hancur berkeping-keping. Malin Kundang terlempar di tepi dermaga dan tubuhnya menjadi batu.

“Ketika seorang ibu hendak melahirkanmu, Nyawa Beliau pertaruhkan hanya demi melihat dirimu yang sekarang. Maka oleh sebab itu perjuangkan senyum manis ibumu jangan sampai memudar apalagi sampai matanya meneteskan air mata kesedihan.”

11. Cerita Rakyat Jawa Barat Sangkuriang

Alkisah pada zaman dulu kala, ada sebuah kerajaan yang sejahtera di daerah Jawa Barat. Raja memiliki seorang anak bernama Dayang Sumbi. Ia adalah seorang wanita yang cantik jelita dan telah memiliki seorang anak yang bernama Sangkuriang.

Pada suatu hari Sangkuriang pamit kepada ibunya untuk berburu hewan di hutan rimba. Sangkuriang memang mempunyai kebiasaan berburu. Ia sangat lihai sekali berburu hewan-hewan di hutan luar sana.

“Ibu, aku ingin berburu di hutan. Sangkuriang mohon pamit, Ibu” Ucap Sangkuriang.

“Berangkatlah nak, jangan sampai kamu lupa membawa si Tumang Berburu” jawab Ibunya.

Berangkatlah Sangkuriang berburu di hutan dengan ditemai si Tumang yang merupakan seekor anjing setia. Tahukah kalian siapa si Tumang sebenarnya?, Tumang sebenarnya adalah Ayah Sangkuriang yang berubah wujud. Dayang Sumbi merahasiakan semua ini dari Sangkuriang.

Setelah sampai di hutan, Sangkuriang mulai berburu, dan ia memperoleh hasil buruan yang banyak. Keesokan harinya Sangkuriang kembali berburu lagi, tapi hari ini berbeda. Tumang disuruh mengejar seekor babi hutan, Tumang menolaknya dengan berdiam diri tak mau mengikuti perintah Sangkuriang. Tumang tahu bahwa babi hutan itu bukan binatang sembarangan, babi itu jelmaan Dewi Wayung Hyang. Sangkuriang marah lalu menakut-nakuti Tumang dengan mengarahkan anak panah tepat dihadapan Tumang.

“Tumang, kamu tidak menuruti perintahku. Lihat busur panah ini, aku akan memanahmu sekarang” teriak Sangkuriang.

Tumang tetap tak mau mengikuti perintah Sangkuriang, ia terus memandangi Sangkuriang sambil berdiam diri. Sangkuriang dalam keadaan marah lalu mengambil anak panahnya dan mengarahkan ke Tumang. Namun tak disangka, Sangkuriang yang berniat hanya menakut-nakuti Tumang, anak panah itu tiba-tiba terlepas dan mengenai kepala Tumang. Ia tewas seketika.

Melihat kejadian itu Sangkuriang menyesal dan ketakutan, ia lalu membawa tubuh anjing itu pulang ke kerajaan. Dayang Sumbi kaget melihat tubuh Tumang terbujur kaku, ia sangat sedih dan bertanya kepada Sangkuriang apa yang terjadi sebenarnya.

“Ada apa dengan Tumang, Nak?” bertanya Dayang Sumbi.

“Maaf ibu, ia tadi tak menuruti perintahku, aku hanya menakutinya dengan mengarahkan anak panahku ke Tumang, namun aku tidak sengaja anak panah itu terlepas dan membunuh Tumang” jawab Sangkuriang.

Mendengar penjelasan Sangkuriang, Dayan Sumbi murka. Ia mengambil centong nasi lalu memukul Sangkuriang dan mengusirnya pergi, Karena Sangkuriang tega membunuh Ayah kandungnya sendiri walau tanpa sepengetahuan Sangkuriang bahwa Tumang adalah Ayahnya. Sangkuriang lari menuju hutan karena di usir ibunya.

Dayang Sumbu menyesal telah melukai hati anak kandungnya. Ia bersemedi cukup lama sehingga Dewa menganugerahkan awet muda dan tetap cantik jelita.

Beberapa tahun kemudian, Sangkuriang telah dewasa. Setelah sekian lama pergi, ia memutuskan kembali. Sampai di kerajaan, Sangkuriang berjalan-jalan sekitar kerajaan. Ia melihat banyak sekali perubahan. Dan saat Sangkuriang berjalan menuju teman kerajaan, ia melihat seorang wanita cantik dan anggun. Wanita itu tidak lain adalah Dayang Sumbi yang awet muda.

Dayang Sumbi tidak mengetahui bahwa pemuda tampan itu adalah anak kandungnya, akhirnya mereka saling jatuh cinta. Saat Dayang Sumbi mengikatkan tali kepala Sangkuriang, ia melihat ada bekas luka di kepalanya, Dayang Sumbi mengenalinya bahwa itu adalah bekas luka karena dipukul dengan centong nasi sewaktu masih kecil.

Sebelum semuanya terlanjur, Dayang Sumbi menjelaskan yang sebenarnya bahwa Sangkuriang adalah anak kandungnya. Namun Sangkuriang tetap tidak percaya dan bersikeras tetap ingin menikahi Dayang Sumbi. Akhirnya Dayang Sumbi memberi syarat jika ingin menikahinya maka Sangkuriang harus membuatkan danau dan perahu dalam waktu semalam.

Demi keinginannya terwujud, Sangkuriang menyanggupi syarat itu. Malam itu dengan bantuan jin-jin, Sangkuriang mengerjakannya. Dayang Sumbi terkejut melihat kedua permintaanya itu hampir jadi, kemudian dia berpikir mencari cara agar semua itu gagal. Setelah menemukan cara, Dayang Sumbi membuat perapian di sebelah timur lalu membangunkan ayam-ayam jago dikandang. Melihat ada yang terang dibagian timur dan mendengar ayam jago berkokok, jin-jin itu mengira bahwa hati telah pagi. Akhirnya jin-jin itu pergi kembali ke asal mereka dan meninggalkan Sangkuriang sendirian.

Melihat kejadian itu, Sangkuriang marah besar. ia sangat murka karena merasa di curangi oleh Dayang Sumbi. Sangkuriang menjebol bendungan danau yang dibuatnya tadi dan menendang perahu hingga terbalik. Sejak kejadian itu konon perahu itu sekarang menjadi gunung di Jawa Barat yang bernama Gunung Tangkuban Perahu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *