Profil Provinsi Maluku Utara | Sejarah, Geografi, Seni Budaya dan Potensi Wisatanya

Dalam artikel ini akan dijaelaskan secara lengkap mengenai profil dari provinsi Maluku Utara, dari segi sejarah, Geografi, Bahasa, Seni Budaya dan Potensi Wisata nya. Check it out!


Sejarah Provinsi Maluku Utara


Pada masa kerajaan Islam di Indonesia, provinsi Maluku Utara terdiri atas empat kerajaan besar, antara lain: Kesultanan Bacan, Kesultanan Jailolo, Kesultanan Tidore, dan Kesultanan Ternate.

Oleh karena itu disebut juga sebagai Moloku Kie Raha yang berarti Kesultanan Empat Gunung di Maluku, dan menjadikan mayoritas masyarakat Maluku Utara memeluk agama Islam.

Secara administratif awalnya wilayah Maluku Utara merupakan salah satu kabupaten di provinsi Maluku.

Namun, sejak 12 Oktober 1999 wilayah ini menjadi provinsi baru di Indonesia berdasarkan Undang-Undang Nomor 46 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2003.


Geografi Provinsi Maluku Utara


Secara geografis provinsi ini terletak pada 3º 40′ Lintang Selatan, 3º 0′ Lintang Utara dan 123º 50′ – 129º 50′ Bujur Timur.

Pada tahun 2014, menurut Stasiun Meteorologi dan Geofisika Babullah Ternate, kelembaban udara di Maluku Utara rata-rata mencapai 82% dan mengalami suhu terendah pada 24 ºC pada Januari, Februari, April, Agustus, dan September.

Sejak disahkan sebagai provinsi baru di Indonesia, Maluku Utara beribukota di kaki gunung Gamalama, tepatnya kota Ternate.

Namun sejak 4 Agustus 2010, ibukota provinsi dipindahkan ke kota Sofifi yang berada di Pulau Halmahera.

Suku

Awalnya merupakan bagian dari Maluku, maka kebudayaan di Maluku Utara tidak jauh berbeda dengan provinsi Maluku.

Suku yang berdiam di Maluku Utara sangat beragam, terdiri dari suku Madole, suku Arab, suku Loloda, suku Sahu, suku Kadai, suku Maba, suku Sawai, suku Kao, suku Tidore, suku Patani, suku Kayoa, suku Tobelo, suku Bacan, suku Tobaru, suku Sula, suku Gane, suku Ternate, suku Pagu, suku Weda, suku Makian Timur, suku Maba, suku Makian Barat, suku Siboyo, suku Buli, suku Gane, suku Maba, dan suku Ange.

Bahasa

Bahasa daerah yang digunakan oleh mayoritas penduduk asli Maluku Utara ialah bahasa Melayu Ternate dan Melayu Utara.

Rumah Adat

Dari segi rumah adat, misalnya, rumah adat Maluku Utara tidak jauh berbeda dengan rumah adat provinsi Maluku.

Rumah adat Maluku Utara disebut Baileo, yang desainnya berupa rumah panggung persegi.

Baileo dibangun dengan kerangka kayu dan gaba-gaba semacam tangkai rumbia pada dinding rumahnya, begitu juga dengan atap rumah adat ini juga terbuat dari rumbia yang dibuat tinggi dan besar. Baileo terdiri dari teras dan bagian dalam rumah.

Seni dan Budaya

Dari segi kesenian daerah, Maluku Utara memiliki lagu daerah berjudul Borero dan Moloku Kie Raha. Sedangkan tarian daerahnya yaitu Tari Lenso yang bercerita mengenai tari pergaulan masyarakat Maluku Utara.

Tarian ini biasanya dibawakan oleh para wanita Maluku Utara dengan menunjukkan kelemahlembutan dan gemulai para penari.

Perekonomian

Jumlah penduduk di Maluku Utara saat ini berjumlah sekitar 1,2 juta jiwa pada sekitar 10 kabupaten/kota.

Dari masyarakat ini, yang berusia produktif ada sekitar hampir 800 ribu jiwa dengan angkatan kerja sekitar 64% dari yang berusia produktif.

Untuk seluruh masyarakat Maluku Utara, diberikan fasilitas kesehatan berupa rumah sakit umum dan bersalin, serta puskesmas, klinik, polindes, dan posyandu.

Dari segi perkembangan ekonomi daerah, Maluku Utara mendapatkan pendapatan daerah sekitar 53% dari sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan.

Komoditas utama daerah ini antara lain: buah pala, cengkeh, kopra, ternak unggas, sapi, kerbau, pertambangan emas, perikanan atau hasil laut dan nikel yang juga sebagai komoditi ekspor ke negara Jepang.

Secara hortikultura, komoditas sayuran yang banyak dibudidayakan di Maluku Utara ialah sayuran terong dan kacang panjang, sedangkan buah-buahan ialah pisang dan durian, serta produksi padi ladang dan jagung sebagai produksi ladang yang paling besar.

Potensi Wisata

Dari segi bentang alam, di Maluku Utara yang terdiri atas puluhan pulau kecil dan yang terbesar ialah Pulau Halmahera.

Banyak tempat-tempat potensial yang dapat dijadikan fokus pariwisata di Maluku Utara, seperti Pulau Maitara, Tidore, dan Dodola.

Pulau Dodola merupakan pulau tak berpenghuni, membuat keindahan alamnya masih terjaga. Pulau Dodola terletak di tepi Samudra Pasifik.

Selain pulau, juga banyak pantai yang dapat dijadikan destinasi wisata untuk perkembangan perekonomian daerah Maluku Utara, antara lain Pantai Sulamadaha di Pulau Ternate yang berhadapan dengan Pulau Hiri, dan berbatasan dengan Teluk (hol) yang menawarkan pemandangan koral, Pantai Bobane Ici yang terletak di Aftador, Kecamatan Pantai, Pantai Tobololo di Pulau Ternate, Pantai Jikomalamo di Pulau Hiri, Pantai Kahona, Pantai Kastela yang berada dekat Monumen Sultan Khairun di Ternate, dan Pantai Sasa.

Selain bentangan alam berupa pantai, ada teluk Jailolo yang berada di dekat Pantai Sulamadaha; Danau Tolire di Ternate Utara yang terdiri atas teluk besar dan kecil yang mana keadaannya dipengaruhi oleh aktivitas vulkanik; Danau Laguna di Desa Ngade, Ternate Selatan yang disebut juga Danau Ngade.

Keindahan alam Maluku Utara juga dapat dinikmati melalui Gunung Gamalama dan Batu Angus di Ternate.

Batu Angus ini terbentuk dari sisa lahar Gunung Gamalama yang bentuknya seperti batu hangus. Tempat ini juga menjadi situs sejarah di Maluku Utara.

Situs sejarah yang terdapat di Maluku Utara antara lain peninggalan masa penjajahan Portugis, yaitu Benteng Kastela atau Benteng Gam Lamo, Benteng Tolukko atau Benteng Hollandia, Benteng Kalumata, Benteng Bernaveld, peninggalan masa penjajahan Belanda seperti Benteng Oranje, dan Benteng Kota Janji yang disebut sebagai tempat Sultan Khairun dan Gubernur Portugis melakukan perjanjian perdamaian, Kedaton Kesultanan Ternate, Masjid Sultan Ternate, serta Masjid Al-Munawwaroh Ternate yang kemudian merupakan landmark kota Ternate.

Leave a Comment