Profil Provinsi Sulawesi Selatan | Geografis, Suku, Bahasa, Agama dan Tempat Wisatanya

Sulawesi Selatan adalah Provinsi di Indonesia. Provinsi ini kaya dengan bentang alam yang indah.

Berbagai macam suku yang tinggal di Sumatera Barat membuat provinsi ini memiliki adat budaya yang bervariasi dan menarik.


Kondisi Geografis Provinsi Sulawesi Selatan


Provinsi Sulawesi Selatan berada di 0°12′ – 8° Lintang Selatan dan 116°48′ – 122°36′ Bujur Timur. Provinsi ini memiliki luas sebesar 62.482,54 km².

Dari segi administratif, wilayah Provinsi Sulawesi Selatan di bagian utara berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tengah.

Di bagian barat dibatasi oleh Selat Makassar, di bagian timur berbatasan dengan Laut Teluk bone. Sedangkan di bagian selatan berbatasan dengan Laut Flores.

Provinsi ini menempati 42% dari luas Pulau Sulawesi dan menempati 4,1% dari luas wilayah Indonesia.

Sulawesi Selatan terletak di lokasi yang strategis dari wilayah timur Indonesia sehingga menjadikan provinsi ini menjadi pusat pelayanan untuk wilayah timur di Indonesia dan skala internasional.


Jumlah Penduduk Provinsi Sulawesi Selatan


Badan Pusat Statistik mengeluarkan data jumlah penduduk yang tinggal di Provinsi Selatan pada tahun 2011.

Jumlah penduduk yang berhasil didata adalah 8.034.776 jiwa yang terdiri dari laki-Laki sebanyak 3.934.431 dan perempuan sebanyak Perempuan 4.110.345.


Suku Provinsi Sulawesi Selatan


Di Provinsi Sumatera Selatan terdapat empat suku utama yang tinggal yakni Toraja, Mandar, Bugis, dan Makassar.

Ada juga suku lain seperti Endekan, Bone, Kajang atau Konjo, Pattinjo, Pattae, Duri, dan Maroangin.


Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan


Ada beberapa bahasa yang digunakan oleh masyarakat Provinsi Sumatera Selatan sebagai berikut:

• Bahasa Makassar digunakan oleh penduduk Makassar yakni Bulukumba, Jeneponto, Sungguminasa, Bantaeng, dan Takalar.

• Bahasa Bugis yang digunakan oleh penduduk di Barru, Soppeng, Kota Pare Pare, Sinjai, Pangkep, Bone, Sidrap, Enrekang, dan Wajo. Bahasa Bugis merupakan bahasa yang paling banyak digunakan oleh penduduk di Sulawesi Selatan.

• Bahasa Tae’ Luwu merupakan bahasa yang digunakan di Kabupaten Wajo, Tana Luwu, Kolaka Utara, Siwa, dan Sulawesi Tenggara.

• Bahasa Toraja digunakan oleh penduduk Tana Toraja dan yang tinggal di sekitarnya.

• Bahasa Mandar adalah bahasa yang digunakan oleh suku Mandar. Suku ini berada di Sulawesi Barat di Mamuju Utara, Majene, Polewali Mandar, dan Mamuju.

• Bahasa Duri merupakan adalah bahasa yang berasal dari rumpun Austronesia yang ada di Sulawesi Selatan dan termasuk dalam dialek Massenrempulu. Dari Bahasa Massenremplu, Duri merupakan bahasa yang sangat dekat dengan bahasa Tae’ Luwu dan Toraja. Pengguna bahasa ini berada di daerah utara Kabupaten Enrekang, Gunung Bambapuang, dan perbatasan Tana Toraja.

• Bahasa Konjo dibagi menjadi dua yakni Bahasa Konjo Pegunungan dan Bahasa Konjo Pesisir. Masyarakat Konjo Pegunungan berada di daerah tenggara dari Gunung Bawakaraeng. Masyarakat Konjo Pesisir berada di pesisir Bulukumba dan di bagian tenggara dari Pulau Sulawesi.


Agama Provinsi Sulawesi Selatan


Mayoritas penduduk di Sulawesi Selatan memeluk agama Islam. Penduduk yang tinggal di Kabupaten Tana Toraja memeluk agama Kristen. Ada juga masyarakat yang memeluk agama Budha atau Hindu.


Pemerintahan Provinsi Sulawesi Selatan


Lima tahun setelah Indonesia merdeka pemerintah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 21 di tahun 1950 yang dijadikan sebagai landasan hukum dari berdirinya wilayah administratif Sulawesi.

Pada 10 tahun kemudian, Undang-Undang Nomor 47 tahun 1960 dikeluarkan sebagai peresmian dibentuknya provinsi Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan.

Empat tahun berikutnya, pemerintah kembali mengeluarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1964 untuk memisahkan Sulawesi Selatan dari Sulawesi Tenggara.

Kemudian pemerintah membagi Sulawesi Selatan jadi dua menurut Undang-Undang Nomor 26 di tahun 2004.


Adat Istiadat dan Budaya Provinsi Sulawesi Selatan


Provinsi Sulawesi Selatan memiliki kebiasaan yang unik. Salah satunya adalah Mappalili. Di suku Bugis ini disebut dengan Mappalili.

Sedangkan suku Makassar mengenal dengan sebutan Appalili yang berasal dari palili. Ini memiliki arti menjaga tumbuhan padi dari gangguan yang dapat menghancurkan tanaman tersebut.

Appalili merupakan ritual yang dilakukan secara turun temurun dan tetap dilestarikan oleh penduduk di Sulawesi Selatan.

Penduduk yang tinggal di Kabupaten Pangket melaksanakan Mappalili karena kebiasaan ini sudah ada dari beberapa tahun yang lalu.

Mappalili merupakan sebuah pertanda untuk menanam padi. Tujuan dari adat ini adalah agar tanah kosong yang akan ditanami terhindar dari gangguan yang dapat mengurangi hasil panen padi.


Makanan Tradisional Provinsi Sulawesi Selatan


Beragam budaya dan banyaknya provinsi yang berada di Indonesia, membuat negara ini memiliki banyak makanan khas dari berbagai provinsi. Berikut ini merupakan masakan khas dari Provinsi Sulawesi Selatan:

  • Coto Makasaar
  • Pisang Epe
  • Tenteng
  • Roti Maros
  • Pisang Ijo
  • Kapurung
  • Bassang
  • Nasu Palekko
  • Bipang
  • Jalangkote
  • Benno
  • Barongko
  • Sup Konro
  • Pallu Butung
  • Sup Saudara, dan masih banyak lagi.

Tempat Wisata di Provinsi Sulawesi Selatan


Inilah daftar wisata yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan yang sudah terkenal di kalangan wisatawan dalam negeri maupun mancanegara:

Pantai Losari

Pantai ini unik karena di pinggir pantai tidak ditemukan pasir tetapi pinggirnya berupa beton. Meskipun tidak ada pasir, banyak wisatawan yang suka berenang dan bermain di pantai ini.

Taman Laut Taka Bonerate

Wisata ini menyuguhkan wisata dalam air. Ini adalah taman laut dan wisatawan dapat berenang dengan kura-kura, penyu, ikan, serta melihat terumbu karang dengan warna yang cantik.

Taman Nasional Bantimurung

Taman ini terkenal dengan koleksi kupu-kupu. Terdapat sekitar 250 spesies kupu-kupu yang hidup di taman ini.

Malino

Di tempat ini terdapat bunker dari masa penjajahan Jepang serta panorama pegunungan kapur yang indah.

Pantai Tanjung Bira

Pantai ini memiliki keindahan yang disukai banyak wisatawan karena masih sangat alami.

Leave a Comment