30 Contoh Cerita Fabel Hewan Pendek Terbaru | Dongeng Anak

Pengertian fabel menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah cerita yang menggambarkan watak dan budi manusia yang pelakunya diperankan oleh binatang (berisi pendidikan moral dan budi pekerti). Jadi secara singkat fabel diartikan sebagai kehidupan hewan yang prilakunya menyerupai manusia.

Kata fabel secara etimologi berasal dari bahasa Latin yaitu “fibula” yang berarti “cerita”. Fabel adalah bagian dari sastra yang berupa cerita ringkas dan singkat yang bertujuan menyampaikan pesan moral.

Kisah dalam sebuah fabel tidak mungkin kisah nyata karena semuanya hanya fiktif yang dikarang oleh penulis untuk edukasi moral dan sejenisnya.

Hal tersebut menyebabkan segala kisah yang diceritakan hanya bersifat fantasi karena pada dasarnya fabel dikarang dengan maksud menyindir prilaku atau watak manusia.

Mengarang sebuah fabel juga harus memperhatikan beberapa aspek diantaranya struktur penulisan; unsur penulisan; serta amanat yang ingin disampaikan melalui ceritanya.

Kumpulan Contoh Cerita Fabel Singkat dan Terbaru

Contoh certa hewan atau fabel sangatlah banyak, baik cerita fabel dari Indonesia maupun dri belahan dunia lainnya. Berikut kami sajikan 25 cerita fabel yang seru dan penuh makna.


1. Si Bangau dan Si Parto | Balas Budi Si Burung Bangau


Dahulu kala di suatu desa di tepi hutan, hidup seorang pemuda bernama Si Parto. Kerjanya mengambil kayu bakar di gunung dan menjualnya ke kota. Uang hasil penjualan dibelikannya makanan. Terus seperti itu setiap harinya. Hingga pada suatu hari ketika ia berjalan pulang dari kota ia melihat sesuatu yang menggelepar di atas hujan. Setelah di dekatinya ternyata seekor burung bangau yang terjerat diperangkap sedang meronta-ronta. Si Parto segera melepaskan perangkap itu. Bangau itu sangat gembira, ia berputar-putar di atas kepala Si Parto beberapa kali sebelum terbang ke angkasa. Karena cuaca yang sangat dingin, sesampainya di rumah, Si Parto segera menyalakan tungku api dan menyiapkan makan malam. Saat itu terdengar suara ketukan pintu di luar rumah.

Ketika pintu dibuka, tampak seorang gadis yang cantik sedang berdiri di depan pintu. Kepalanya dipenuhi dengan hujan. “Masuklah, nona pasti kedinginan, silahkan hangatkan badanmu dekat tungku,” ujar Si Parto. “Nona mau pergi kemana sebenarnya ?”, Tanya Si Parto. “Aku bermaksud mengunjungi temanku, tetapi karena hujan turun dengan lebat, aku jadi tersesat.” “Bolehkah aku menginap di sini malam ini ?” “Boleh saja Nona, tapi aku ini orang miskin, tak punya kasur dan makanan.”, kata Si Parto. “Tidak apa-apa, aku hanya ingin diperbolehkan menginap”. Kemudian gadis itu merapikan kamarnya dan memasak makanan yang enak.

Ketika terbangun keesokan harinya, gadis itu sudah menyiapkan nasi. Si Parto berpikir bahwa gadis itu akan segera pergi, ia merasa kesepian. Hujan masih turun dengan lebatnya. “Tinggallah disini sampai hujan reda.” Setelah lima hari berlalu hujan mereda. Gadis itu berkata kepada Si Parto, “Jadikan aku sebagai istrimu, dan biarkan aku tinggal terus di rumah ini.” Si Parto merasa bahagia menerima permintaan itu. “Mulai hari ini panggillah aku Parti”, ujar si gadis. Setelah menjadi Istri Si Parto, Parti mengerjakan pekerjaan rumah dengan sungguh-sungguh. Suatu hari, Parti meminta suaminya, Si Parto, membelikannya benang karena ia ingin menenun.

Parti mulai menenun. Ia berpesan kepada suaminya agar jangan sekali-kali mengintip ke dalam penyekat tempat Parti menenun. Setelah tiga hari berturut-turut menenun tanpa makan dan minum, Parti keluar. Kain tenunannya sudah selesai. “Ini tenunannya Pak. Kalau dibawa ke kota pasti akan terjual dengan harga mahal. Si Parto sangat senang karena kain tenunannya dibeli orang dengan harga yang cukup mahal. Sebelum pulang ia membeli bermacam-macam barang untuk dibawa pulang. “Berkat kamu, aku mendapatkan uang sebanyak ini, terima kasih istriku. Tetapi sebenarnya para saudagar di kota menginginkan kain seperti itu lebih banyak lagi. “Baiklah akan aku buatkan”, ujar Parti. Kain itu selesai pada hari keempat setelah Parti menenun. Tetapi tampak Parti tidak sehat, dan tubuhnya menjadi kurus. Parti meminta suaminya untuk tidak memintanya menenun lagi.

Di kota, Sang Saudagar minta dibuatkan kain satu lagi untuk Kimono tuan Putri. Jika tidak ada maka Si Parto akan dipenggal lehernya. Hal itu diceritakan Si Parto pada istrinya. “Baiklah akan ku buatkan lagi, tetapi hanya satu helai ya”, kata Parti.

Karena cemas dengan kondisi istrinya yang makin lemah dan kurus setiap habis menenun, Si Parto berkeinginan melihat ke dalam ruangan tenun. Tetapi ia sangat terkejut ketika yang dilihatnya di dalam ruang menenun, ternyata seekor bangau sedang mencabuti bulunya untuk ditenun menjadi kain. Sehingga badan bangau itu hampir gundul kehabisan bulu. Bangau itu akhirnya sadar dirinya sedang diperhatikan oleh Si Parto, bangau itu pun berubah wujud kembali menjadi Parti. “Akhirnya kau melihatnya juga”, ujar Parti.

“Sebenarnya aku adalah seekor bangau yang dahulu pernah Kau tolong”, untuk membalas budi aku berubah wujud menjadi manusia dan melakukan hal ini,” ujar Parti. “Berarti sudah saatnya aku berpisah denganmu”, lanjut Parti. “Maafkan aku, kumohon jangan pergi,” kata Si Parto. Parti akhirnya berubah kembali menjadi seekor bangau. Kemudian ia segera mengepakkan sayapnya terabng keluar dari rumah ke angkasa. Tinggallah Si Parto sendiri yang menyesali perbuatannya.


2. Ikan Emas Ajaib dan Si Nenek Serakah


Dahulu kala, di suatu desa terpencil, tinggalah sepasang kakek dan nenek yang miskin. Pekerjaan si kakek adalah mencari ikan di laut. Meski hampir setiap hari kakek pergi menjala ikan, namun hasil yang didapat hanya cukup untuk makan sehari-hari saja. Bahkan tidak jarang si kakek pulang dengan tangan hampa, namun itu semua dijalani si kakek dengan sabar.

Suatu hari ketika si kakek sedang menjala ikan, tiba-tiba jalanya terasa sangat berat. Seperti ada ikan raksasa yang tersangkut di jalanya. “Ah, pasti ikan yang sangat besar,” pikir si kakek. Dengan sekuat tenaga si kakek menarik jalanya. Namun ternyata tidak ada apapun kecuali seekor ikan kecil yang tersangkut di jalanya. Rupanya ikan kecil itu bukan ikan biasa, badannya berkilau seperti emas dan bisa berbicara seperti layaknya manusia.

“Kakek, tolong lepaskan aku. Aku akan mengabulkan semua permintaanmu!” kata si ikan emas. Si kakek berpikir sejenak, lalu katanya, “aku tidak memerlukan apapun darimu, tapi aku akan melepaskanmu. Pergilah!”. Kakek melepaskan ikan emas itu kembali ke laut, lalu dia pun kembali pulang. Sesampainya di rumah, nenek menanyakan hasil tangkapan kakek.

“Hari ini aku hanya mendapatkan satu ekor ikan emas, dan itupun sudah aku lepas kembali,” kata kakek, “aku yakin kalau itu adalah ikan ajaib, karena dia bisa berbicara. Katanya dia akan memberiku imbalan jika aku mau melepaskannya.”
“Lalu apa yang kau minta,” tanya nenek. “Tidak ada,” kata kakek.
“Oh, alangkah bodohnya!” seru nenek.

“Setidaknya kau bisa meminta roti untuk kita makan. Pergilah dan minta padanya!” Maka dengan segan kakek kembali ke tepi pantai dan berseru:

Wahai ikan emas ajaib,
Datanglah kemari…
Kabulkan keinginan kami!
Tiba-tiba si ikan emas muncul di permukaan laut. “Apa yang kau inginkan, kek?” katanya. “Istriku marah padaku, berikan aku roti untuk makan malam, maka dia akan memaafkanku!” pinta si kakek. “Pulanglah! Aku telah mengirimkan roti yang banyak ke rumahmu.” kata si ikan.

Maka pulanglah si kakek. Setibanya di rumah, didapatinya meja makan telah penuh dengan roti. Tapi istrinya masih tampak marah padanya, katanya: “Kita telah punya banyak roti, tapi meja kita rusak, aku tidak bisa meletakkan roti-roti ini di meja.

Pergilah kembali ke laut, dan mintalah ikan ajaib memberikan kita meja yang baru!” kata nenek. Terpaksa si kakek kembali ke tepi laut dan berseru: Wahai ikan emas ajaib,

Datanglah kemari…
Kabulkan keinginan kami!
“Uuuups!” ikan emas muncul, “Apa lagi yang kau inginkan, kek?” “Nenek menyuruhku memintamu agar memberikan kami meja yang baru,” pinta kakek.
“Baiklah,” kata ikan. “Kau boleh memiliki meja baru juga.”

Si kakek pun kembali pulang. Belum lagi menginjak halaman, si nenek sudah menghadangnya. “Pergilah lagi! Mintalah pada si ikan emas untuk membuatkan kita sebuah rumah baru. Kita tidak bisa tinggal di sini terus, rumah ini sudah hampir roboh. ”Maka si kakek pun kembali ke tepi laut dan berseru:

Wahai ikan emas ajaib,
Datanglah kemari…
Kabulkan keinginan kami!
Dalam sekejap ikan emas itu muncul di hadapan si kakek, “apa yang kau inginkan lagi, kakek?” “Buatkanlah kami rumah baru!” pinta kakek, “istriku sangat marah, dia tidak ingin tinggal di rumah kami yang lama karena rumah itu sudah hampir roboh.” “Tenanglah kek! Pulanglah! Keinginanmu sudah kukabulkan.”

Kakek pun pulang. Sesampainya di rumah, dilihatnya bahwa rumahnya telah menjadi baru. Rumah yang indah dan terbuat dari kayu yang kuat. Dan di depan pintu rumah itu, nenek sedang menunggunya dengan wajah yang tampak jauh lebih marah dari sebelumnya. “Dasar kakek bodoh! Jangan kira aku akan merasa puas hanya dengan membuatkanku rumah baru ini. Pergilah kembali, dan mintalah pada ikan emas itu bahwa aku tidak mau menjadi istri nelayan. Aku ingin menjadi nyonya bangsawan. Sehingga orang lain akan menuruti keinginanku dan menghormatiku!” Untuk kesekian kalinya, si kakek kembali ke tepi laut dan berseru:

Wahai ikan emas ajaib,
Datanglah kemari…
Kabulkan keinginan kami!
Dalam sekejap ikan emas itu muncul di hadapan si kakek, “apa yang kau inginkan lagi, kakek?” “Istriku tidak bisa membuatku tenang. Dia bahkan semakin marah. Katanya dia sudah lelah menjadi istri nelayan dan ingin menjadi nyonya bangsawan” pinta kakek. “Baiklah. Pulanglah! Keinginanmu sudah dikabulkan!” kata ikan emas.

Alangkah terkejutnya si kakek ketika kembali ternyata kini rumahnya telah berubah menjadi sebuah rumah yang megah. Terbuat dari batu yang kuat, tiga lantai tingginya, dengan banyak sekali pelayan di dalamnya. Si kakek melihat istrinya sedang duduk di sebuah kursi tinggi sibuk memberi perintah kepada para pelayan.

“Hallooo istriku,” sapa si kakek. “Betapa tidak sopannya,” kata si nenek. “Berani sekali kau mengaku sebagai suamiku. Pelayan! Bawa dia ke gudang dan beri dia 40 cambukan!” Segera saja beberapa pelayan menyeret si kakek ke gudang dan mencambuknya sampai si kakek hampir tidak bisa berdiri. Hari berikutnya istrinya memerintahkan kakek untuk bekerja sebagai tukang kebun. Tugasnya adalah menyapu halaman dan merawat kebun. “Dasar perempuan jahat!” pikir si kakek. “Aku sudah memberikan dia keberuntungan tapi dia bahkan tidak mau mengakuiku sebagai suaminya.”

Lama kelamaan si nenek bosan menjadi nyonya bangsawan, maka dia kembali memanggil si kakek: “Hai lelaki tua, pergilah kembali kepada ikan emasmu dan katakan ini padanya: aku tidak mau lagi menjadi nyonya bangsawan, aku mau menjadi ratu.” Maka kembalilah si kakek ke tepi laut dan berseru”

Wahai ikan emas ajaib,
Datanglah kemari…
Kabulkan keinginan kami!
Dalam sekejap ikan emas itu muncul di hadapan si kakek, “apa yang kau inginkan lagi, kakek?” “Istriku semakin keterlaluan. Dia tidak ingin lagi menjadi nyonya bangsawan, tapi ingin menjadi ratu.”

“Baiklah. Pulanglah! Keinginanmu sudah dikabulkan!” kata ikan emas.

Sesampainya kakek di tempat dulu rumahnya berdiri, kini tampak olehnya sebuah istana beratap emas dengan para penjaga berlalu lalang. Istrinya yang kini berpakainan layaknya seorang ratu berdiri di balkon dikelilingi para jendral dan gubernur. Dan begitu dia mengangkat tangannya, drum akan berbunyi diiringi musik dan para tentara akan bersorak sorai.

Setelah sekian lama, si nenek kembali bosan menjadi seorang ratu. Maka dia memerintahkan para jendral untuk menemukan si kakek dan membawanya ke hadapannya. Seluruh istana sibuk mencari si kakek. Akhirnya mereka menemukan kakek di kebun dan membawanya menghadap ratu.

“Dengar lelaki tua! Kau harus pergi menemui ikan emasmu! Katakan padanya bahwa aku tidak mau lagi menjadi ratu. Aku mau menjadi dewi laut sehingga semua laut dan ikan-ikan di seluruh dunia menuruti perintahku.”
Kakek terkejut mendengar permintaan istrinya, dia mencoba menolaknya. Tapi apa daya nyawanya adalah taruhannya, maka dia terpaksa kembali ke tepi laut dan berseru:

Wahai ikan emas ajaib,
Datanglah kemari…
Kabulkan keinginan kami!
Kali ini si ikan emas tidak muncul di hadapannya. Kakek mencoba memanggil lagi, namun si ikan emas tetap tidak mau muncul di hadapannya. Dia mencoba memanggil untuk ketiga kalinya. Tiba-tiba laut mulai bergolak dan bergemuruh. Dan ketika mulai mereda muncullah si ikan emas, “apa yang kau inginkan lagi, kakek?”
“Istriku benar-benar telah menjadi gila,” kata kakek. “Dia tidak mau lagi menjadi ratu tapi ingin menjadi dewi laut yang bisa mengatur lautan dan memerintah semua ikan.”

Si ikan emas terdiam dan tanpa mengatakan apapun dia kembali menghilang ke dalam laut. Si kakek pun terpaksa kembali pulang. Dia hampir tidak percaya pada penglihatannya ketika menyadari bahwa istana yang megah dan semua isinya telah hilang. Kini di tempat itu, berdiri sebuah gubuk reot yang dulu ditinggalinya. Dan di dalamnya duduklah si nenek dengan pakaiannya yang compang-camping. Mereka kembali hidup seperti dulu. Kakek kembali melaut. Namun seberapa kerasnya pun dia bekerja. hasil yang didapat hanya cukup untuk makan sehari-hari saja.


3. Kisah Burung Pipit Berlidah Pendek


Pada Zaman dahulu kala, di suatu desa kecil di Negara Jepang tinggalah sepasang kakek dan nenek. Kakek adalah seorang yang sangat baik hati dan pekerja keras. Sebaliknya nenek adalah seorang penggerutu dan senang mencaci maki, sikapnya juga kasar dan buruk. Itulah sebabnya kakek lebih suka menghabiskan waktunya dengan bekerja di ladang dari pagi hingga petang. Mereka tidak dikaruniai anak, tapi kakek memiliki seekor burung pipit yang selalu menghiburnya. Dia sangat cantik dan diberi nama Suzume. Kakek sangat menyayanginya. Setiap petang sepulangnya dari ladang, kakek akan membuka kandang Suzume, membiarkannya terbang di dalam rumah, lalu mengajaknya bermain, berbicara, dan mengajarinya trik-trik yang dengan cepat dipelajarinya.

Suatu hari, saat kakek pergi bekerja, nenek mulai membereskan rumah. Kemarin nenek sudah menyiapkan bubur tepung beras untuk melicinkan pakaian yang sudah dicuci. Bubur itu disimpannya di atas meja. Tapi kini mangkuk buburnya telah kosong. Rupanya kakek lupa menutup kandang Suzume, sehingga dia terbang di sepanjang rumah dan memakan bubur tepung beras nenek. Saat si nenek kebingungan mencari siapa yang menghabiskan buburnya, Suzume terbang menghampiri nenek. Dia membungkuk memberi hormat lalu kicaunya: “Sayalah yang memakan bubur tepung beras nenek. Saya pikir itu adalah makanan untukku. Saya mohon maafkanlah saya. Twit! Twit! Twit……!”
Nenek sangat marah mendengar pengakuan si burung pipit. Memang nenek tidak pernah menyukai Suzume. Baginya keberadaan Suzume hanya mengotori rumah saja. Ini adalah kesempatan si nenek untuk melampiaskan kemarahannya. Maka keluarlah cacian dari mulut nenek.

Tidak cukup sampai disitu nenek yang kalap merenggut Suzume yang malang dan memotong lidahnya hingga putus. “Ini adalah pelajaran buatmu!” kata nenek, “karena dengan lidah ini kamu memakan bubur tepung berasku! Sekarang pergilah dari sini! Aku tak mau melihatmu lagi!” Suzume hanya bisa menangis menahan sakit, dan terbang jauh ke arah hutan.

Sore harinya kakek pulang dari ladang. Seperti biasa kakek menghampiri kandang Suzume untuk mengajaknya bermain. Tapi ternyata kandang itu sudah kosong. Dicarinya Suzume di sekeliling rumah dan dipangilnya, namun Suzume tidak juga muncul. Kakek merasa yakin bahwa neneklah yang telah membuat Suzume pergi. Maka kakek pun menghampiri nenek dan bertanya: “Kemana Suzume? Kau pasti tahu dimana dia.” “Burung pipitmu?” kata nenek, “Aku tidak tahu dimana dia. Aku tidak melihatnya sepanjang hari ini. Oh, mungkin dia jenis burung yang tidak tahu berterima kasih. Makanya dia kabur dan tak ingin kembali meskipun kau sangat menyayanginya.” Kakek tentu saja tidak percaya dengan perkataan nenek. Dia memaksanya untuk berbicara jujur. Akhirnya nenek mengaku telah mengusir Suzume dan memotong lidahnya.

Itu hukuman karena dia telah berbuat nakal” kata nenek. “Kenapa kau begitu kejam?” kata kakek. Dia sebenarnya sangat marah, tapi dia terlalu baik untuk menghukum istrinya yang kejam. Namun dia tidak bisa berhenti mengkhawatirkan Suzume yang pasti sangat menderita. “Betapa malangnya Suzume. Dia pasti kesakitan. Dan tanpa lidahnya dia mungkin tidak bisa berkicau lagi,” pikir kakek. Dia bertekad untuk mencari Suzume sampai ketemu besok pagi.

Esoknya, pagi-pagi sekali kakek sudah berkemas dan bersiap pergi untuk mencari Suzume. Dia pergi ke bukit lalu ke dalam hutan. Di setiap rumpunan bambu yang ditemuinya, dia akan berhenti dan mulai memanggilnya:

“Dimana oh dimana burung pipitku yang malang,
Dimana oh dimana burung pipitku yang malang”
Kakek terus mencari Suzume tanpa kenal lelah. Dia bahkan lupa kalau perutnya belum diisi sejak pagi. Sore harinya, sampailah kakek di rumpunan bambu yang rimbun. Dia pun mulai memanggil lagi:

“Dimana oh dimana burung pipitku yang malang,
Dimana oh dimana burung pipitku yang malang”
Dari rimbunan bambu tersebut, keluarlah Suzume. Dia membungkukan kepalanya, memberi hormat pada kakek. Kakek senang sekali bisa menemukan Suzume, apalagi ternyata lidah Suzume telah tumbuh lagi sehingga dia tetap bisa berkicau. Suzume mengajak kakek untuk mampir ke rumahnya. Ternyata Suzume memiliki keluarga dan mereka tinggal di sebuah rumah seperti layaknya manusia.
“Suzume pasti bukan burung biasa,” pikir kakek. Kakek mengikuti Suzume memasuki rumpunan bambu. Rumah Suzume ternyata sangat indah. Dindingnya terbuat dari bambu berwarna putih cerah. Karpetnya sangat lembut, bantal yang didudukinya sangat empuk dan dilapisi sutra yang sangat halus. Ruangannya sangat luas dan dihiasi ornamen-ornamen yang cantik. Kakek disuguhi berbagai makanan dan minuman yang sangat lezat, juga tarian burung pipit yang sangat menakjubkan. Kakek juga diperkenalkan kepada seluruh anggota keluarga Suzume. Mereka semua sangat berterima kasih pada kakek yang telah merawat Suzume dengan baik. Sebaliknya kakek pun memohon maaf atas perlakuan istrinya yang kejam terhadap Suzume.

Waktu berlalu tanpa terasa. Malam pun semakin larut. Akhirnya kakek meminta diri dan berterima kasih atas sambutan keluarga Suzume yang hangat. Suzume memohon supaya kakek menginap satu atau dua malam, namun kakek bersikeras untuk pulang karena pasti nenek kebingungan mencarinya. Kakek berjanji akan sering-sering mengunjungi suzume lain waktu. Sebelum pulang Suzume memaksa kakek untuk memilih kotak hadiah untuk dibawanya pulang. Ada dua buah kotak yang ditawarkan. Satu kecil dan satu lagi besar. Kakek memilih kotak kecil. “Aku sudah tua dan lemah,” katanya. “Aku tidak akan kuat jika harus membawa kotak yang besar.”
Suzume dan keluarganya mengantarkan kakek sampai keluar dari rumpunan bambu dan sekali lagi membungkukan kepalanya memberi hormat.

Setibanya di rumah, nenek langsung mencecarnya: “Kemana saja seharian? Kenapa begitu malam baru pulang?” tanyanya. Kakek mencoba menenangkannya dan memperlihatkan kotak yang didapatnya dari Suzume. Kakek juga menceritakan pertemuannya dengan Suzume. “Baiklah!” kata nenek. “Sekarang cepat buka kotak itu! Kita lihat apa isinya.” Maka mereka lalu membuka kotak itu bersama-sama. Betapa terkejutnya mereka, ternyata kotak itu penuh berisi uang emas, perak dan perhiasan-perhiasan yang sangat indah. Kakek mengucap syukur berkali-kali atas anugerah itu. Tapi nenek yang serakah malah memarahi kakek karena tidak memilih kotak yang besar. “Kalau kotak yang kecil saja isinya bisa sebayak ini apalagi kotak yang besar,” teriaknya.

Esok paginya setelah memaksa kakek untuk menunjukkan jalan ke tempat Suzume, nenek pergi dengan penuh semangat. Kakek mencoba melarangnya, namun sia-sia saja. Setelah melewati bukit dan masuk ke dalam hutan, sampailah si nenek di tepi rimbunan bambu, maka dia pun mulai memanggil:

“Dimana oh dimana burung pipitku yang malang, Dimana oh dimana burung pipitku yang malang” Suzume pun keluar dari rimbunan bambu dan membungkukan kepalanya ke arah nenek. Tanpa membuang waktu dan tanpa malu nenek berkata:
“Saya tidak akan membuang waktumu. Aku datang kesini hanya untuk meminta kotak yang kemarin ditolak oleh kakek. Setelah itu aku akan pergi.” Suzume memberikan kotak yang diminta, dan tanpa mengucapkan terima kasih, nenek segera meninggalkan tempat itu. Kotak itu sangat berat. Dengan terseok-seok nenek memanggulnya. Semakin lama kotak itu semakin berat, seolah-olah berisi ribuan batu. “Kotak ini pasti berisi harta karun yang sangat banyak,” pikir nenek. Dia sudah tidak sabar ingin mengetahui isi kotak tersebut. Maka dia menurunkan kotak itu dari punggungnya dan lalu membukanya. Wuuuuush……!!! Dari dalam kotak itu keluar ribuan makhluk yang menyeramkan dan mengejar nenek yang langsung lari terbirit-birit. Beruntung nenek bisa sampai di rumahnya meski jantungnya serasa mau putus. Kepada kakek dia menceritakan apa yang dialaminya. “Itulah hukuman bagi orang yang serakah,” kata kakek. “Semoga ini menjadi pelajaran buatmu.” Sejak saat itu nenek tidak pernah lagi mengeluarkan kata-kata kasar dan selalu berlaku baik pada orang lain. Dan mereka berdua hidup bahagia selamanya.


4. Monyet dan Babi Hutan


Di suatu hutan rimba hidup seekor Babi hutan yang pemurung. Ia mempunyai tetangga seekor Monyet yang mempunyai sifat sebaliknya. Monyet itu periang, banyak memiliki sahabat, serta pintar memberi nasihat. Karena senantiasa sedih dan murung, suatu hari Babi hutan pergi ke rumah Monyet.

Setelah menempuh perjalanan yang tidak begitu jauh, akhirnya Babi hutan sampai di rumah Monyet. Saat itu terlihat Monyet sedang berbaring sambil bersiul di serambi rumahnya. Babi hutan berkata, “Monyet, kudengar kau binatang paling bijaksana di rimba belantara. Benarkah itu?” Sahut monyet, “Kata warga rimba, memang demikian.”, kata Babi Hutan. “Bolehkah aku meminta nasihat padamu?” kata Babi hutan lebih lanjut.

“Oh silahkan, memangnya kamu ada masalah apa, aku lihat kamu baik-baik saja”, kata Monyet. “Begini, Monyet. Aku tidak pernah merasa bahagia dalam hidup ini. Apa gerangan sebabnya?” Apakah aku terkena kutukan dari dewa? Tanya Babi hutan kemudian.

Monyet berpikir sejenak, kemudian jawabnya, “Ohoooo…. Babi hutan, kamu tidak terkena kutukan. Aku ada nasihat kepadamu, pergilah cari pohon Bonga. Buahnya berwarna hitam. Petiklah buahnya, lalu makanlah. Dengan memakan sebuah Bonga saja kau akan merasakan bahagia seumur hidupmu.”

“Buah Bonga? Aku baru mendengar sekarang. Di mana terdapat pohon buah itu?” Semudah itukah untuk merasakan bahagia?” Tanya Babi hutan. “Sudahlah, ikuti saja petunjukku.” Jawab Monyet. “Pergi saja kamu dan bertanyalah kepada penduduk hutan ini dimana tempatnya pohon Bonga berada”, kata Monyet kemudian. Babi hutan menjawab, “ Baiklah Monyet, akan aku ikuti nasihatmu.”

Esoknya Babi hutan bergegas pergi berkelana di hutan belantara untuk mencari buah kebahagiaan itu. Kesana kemari babi hutan mencari buah itu, dia bertanya kepada para penghuni hutan untuk minta tahu dimana gerangan pohon Bonga berada.

Pada suatu sore menjelang malam di tepi danau Babi hutan bertemu dengan Kerbau. “Hai Kerbau yang baik hati, tahukah kamu dimana pohon Bonga berada?” Tanya Babi hutan. “Pohon Bonga?” aku belum pernah mendengarnya.” Jawab Kerbau. Mereka berdua terlibat pembicaraan mengenai pohon Bonga. Sampai akhirnya matahari hampir tenggelam Kerbau mengajak Babi hutan untuk bermalan di rumahnya. Akhirnya malam itu Babi hutan menginap di rumah Kerbau, sampai larut malam mereka berdiskusi tentang pohon Bonga sampai tanpa terasa keduanya tertidur pulas.

Pagi-pagi sekali Babi hutan segera berpamitan kepada Kerbau untuk melanjutkan perjalanannya mencari pohon Bonga. Demikianlah seterusnya tanpa menyerah Babi hutan berkelana mencari keberadaan pohon Bonga.

Sampai tak terasa sudah satu tahun Babi hutan berkelana dan akhirnya ia tiba di rimba tempat ia lahir. Monyet menyambut kedatangan babi hutan, yang kini wajahnya segar dan ceria. Tanya monyet, “sudahkah kau temukan buah Bonga?”

Babi hutan menjawab, “belum, Monyet. Tetapi, aku sudah menemukan kebahagiaan itu. Kini aku sangsi, benarkah ada pohon Bonga itu? Seluruh pelosok dunia telah kujelajahi. Tidak seorang pun tahu tentang buah ajaib itu.”

Sambil menyungging senyum, menjawablah monyet, “Benar dugaanmu, Babi hutan. Buah Bonga hanya karanganku belaka. Tentu saja kau tidak bisa menemukannya. Tetapi ngomong-ngomong, bagaimana cara kau memperoleh kebahagiaan itu?”

Babi hutan menjawab, “Aku menikmati perjalanan itu. Di mana mana aku menjalin persahabatan. Setiap hari ada hal hal baru yang kulihat. Nah, ternyata dengan banyak bersahabat dan melihat luasnya dunia, hati kita menjadi bahagia.” Monyet mengangguk angguk mengiyakan. SEKIAN.


5. Si Kancil dan Sekawanan Gajah


Dongeng Si Kancil: Suatu hari di Hutan Pakis, Si Kancil tengah berjalan-jalan di tepian danau. Sambil bersiul dan berdendang keasyikan sambil makan buah mentimun kesukaannya. “Blusukkkk krik krik krik….byuuurrr!!!!” Sang Kancil tiba-tiba terperosok ke dalam sebuah sumur tua tatkala sedang berada di tepi hutan saat dalam perjalanan menuju Pantai Samas. Kabut masih tebal saat itu sehingga sumur tersebut tidak terlihat oleh Sang Kancil. Rupanya itu adalah sumur peninggalan Tarzan yang telah lama meninggalkan tempat itu untuk menjadi Tarzan Kota.

“Aduh biyuuungg, kakiku sakit buangeeet!” teriak Sang Kancil yang tubuhnya hanya kelihatan kepalanya karena terendam air — sambil mulutnya nyengir-nyengir menahan sakit. Meskipun dirinya terjatuh di air, karena air sumur tak seberapa dalam maka kakinya terasa nyeri yang hebat akibat benturan. Lalu dengan terpincang-pincang Sang Kancil berenang menepi dan duduk di batu besar yang menyembul di tepi sumur.

Sang Kancil termenung memikirkan nasibnya. Sumur ini ada di tepi hutan. Jarang sekali ada binatang yang berani bepergian sampai ke tepi hutan. Paling-paling sekawanan Gajah yang sedang menjajaki rute baru, kawanan Babi Hutan yang hendak mencari jagung atau Serigala yang sedang mencari-cari makanan tambahan karena sudah bosan dengan makanan yang ada di dalam hutan. Itu artinya dirinya harus lama menunggu sampai ada binatang yang menemukan dirinya di dalam sumur.

dongeng binatang dongeng si kancil dan gajahSetelah tiga hari tiga malam terjebak, pada hari keempat barulah muncul sekawanan Babi Hutan yang melongok dari bibir sumur. Mereka kehausan dan sedang mencari-cari sumber air minum yang memang jarang ada di tepi hutan itu. Sang Kancil berteriak kegirangan melihat Babi Hutan.

“Woooiiii beib, bantu aku keluar dari sini duuuuuuung!!!” teriaknya sekuat tenaga.

Tapi alih-alih menolong Sang Kancil, para Babi Hutan malahan lari terbirit-birit mendengar suara menggelegar dari dasar sumur. Dikiranya ada monster penunggu sumur yang akan memakan mereka.

Sang Kancil kesal bukan main. Dianggapnya para Babi Hutan itu sungguh terlalu takut pada bayangan monster dalam pikiran mereka sendiri. Mereka terlalu percaya pada cerita-cerita monster sehingga apa saja yang aneh dan menakutkan langsung dianggap monster.

Pada hari kelima muncul lagi seekor binatang lain. Kali ini datang seekor keledai yang baru saja meloloskan diri dari majikannya. Dengan hati riang senang-senang dia bersiul-siul menyusuri tepi hutan. Sampailah dia di bibir sumur tempat Sang Kancil terperosok. Tentu saja dia haus dan penasaran, apakah bisa minum dari sumur tersebut. Belajar dari pengalaman ketakutan para Babi Hutan, kali ini Sang Kancil tidak berteriak. Dia hanya menyapa pelan pada Keledai yang tengah melongokkan kepala.

“Wahai teman, Tolonglah aku. Aku terperosok di dalam sumur tanpa bisa keluar lagi” kata Sang Kancil.

Keledai melihat sejenak ke dalam sumur dan terheran-heran mendengar suara dari dalam sumur. Kemudian dia mengamat-amati dasar sumur, barulah dilihatnya Sang Kancil yang sedang duduk lemas di atas batu. Tiba-tiba Keledai tertawa terbahak-bahak. Si Keledai tertawa terpingkal-pingkal sampai-sampai berguling-guling di atas tanah.

“Hohohoho…bukankah kamu itu Kancil yang terkenal cerdik itu??. Gunakan otakmu yang katanya hebat itu! Atau kecerdasanmu itu berita bohong belaka sehingga kamu masih butuh bantuanku? Uruslah sendiri nasibmu!. Aku tak punya banyak waktu untuk menolongmu!. Lagipula waktu aku jadi peliharaan majikanku, tak ada seorang pun yang peduli. Kini giliranmu dicuekin….Hahahahahaha. Sorry yah!” kata Keledai sambil berlalu dengan masih ketawa ngikik.

Sang Kancil kembali ditinggal seorang diri di dalam sumur. Pada hari keenam muncullah sekelompok orang membawa pedati yang beristirahat di tempat itu. Mereka mendirikan tenda-tenda dan mulai memasak. Nampaknya mereka adalah kafilah pedagang yang sedang mampir beristirahat.

Saat terdengar suara-suara orang berteriak-teriak gaduh karena berhasil menangkap seekor keledai yang lepas, tahulah Sang Kancil bahwa keledai yang kemarin menertawakan dirinya itu masih berkeliaran di sekitar sumur dan tertangkap kembali oleh tuannya. Sungguh malang nasibnya.

Sang Kancil menyadari bahwa dirinya juga harus menghindar dari tangkapan mereka. Maka cepat-cepatlah dia masuk ke sebuah rongga yang ada di dinding sumur dan bersembunyi di situ karena takut ditangkap dan dijadikan sate kancil yang tersohor kegurihannya.

Untunglah para pedagang itu jarang melongok ke dalam sumur sehingga tidak memergoki Sang Kancil. Mereka hanya sesekali saja pergi ke sumur itu untuk mengambil air dengan ember yang diikat dengan tali. Air itu dipergunakan untuk memasak, mencuci dan mandi. Keesokan harinya mereka telah meninggalkan tempat itu. Dari suara-suara mereka, tahulah Sang Kancil bahwa para pedagang itu membuang ember bertali di dekat sumur karena dianggapnya sudah usang.

Pada hari ketujuh muncullah sekelompok gajah yang melintas di dekat sumur. Mereka meneliti dasar sumur karena kehausan. Tak sengaja terlihat oleh mereka Sang Kancil tengah tertidur di sana. Para Gajah itu saling berbisik membicarakan binatang yang tengah terbaring di dasar sumur. Kemudian mereka berteriak memanggil Sang Kancil.

Sang Kancil kaget oleh teriakan para Gajah dan terbangun. Dilihatnya ada beberapa kepala gajah menyembul di bibir sumur. Diam-diam dia sedang berpikir keras cara minta bantuan mereka untuk keluar dari sumur. Akhirnya dia memutuskan untuk membantu para Gajah, baru kemudian minta tolong pada mereka. Memberi dulu baru kemudian menerima pertolongan.

“Wahai Gajah kita adalah sobat yang harus tolong menolong” kata Kancil. Para Gajah mengangguk-angguk sambil bergumam tanda setuju. Mereka tak sadar jika Sang Kancil berada di dalam sumur karena terjatuh.

“Aku tahu kalian kehausan. Aku akan membantu kalian mengambil air dari dalam sumur. Coba lihat adakah ember dan tali yang diletakkan di dekat sumur. Kemarin kudengar para kafilah membuang ember beserta talinya karena sudah punya ember baru. Walaupun butut ember itu masih berguna bagi kalian. Turunkan ember ke dalam sumur, pegang ujung talinya. Aku akan membantumu menciduk air sumur” teriak Sang Kancil.

Para Gajah yang tengah kehausan dengan antusias mencari-cari barang yang disebutkan Sang Kancil. Sampai akhirnya mereka menemukan tak jauh dari bibir sumur tergeletak ember butut yang diikat dengan tali yang tak kalah bututnya dan penuh sambungan. Kemudian mereka menurunkan ember ke dalam sumur. Sang Kancil membantu menciduk air dan menyuruh gajah menarik ember yang sudah terisi air ke atas.

Begitulah berulang kali air diambil dari dasar sumur. Dengan girangnya para Gajah bergantian minum dan mandi dari air dalam ember yang diambil dari dalam sumur. Maklum sudah dari kemarin mereka kesulitan mencari sumber air. Setelah semua Gajah selesai mandi, barulah Sang Kancil berteriak untuk minta dikeluarkan dari dasar sumur.

Merasa Sang Kancil telah membantu mereka mendapatkan air, para Gajah dengan senang hati membantu Sang Kancil keluar dari dasar sumur. Sang Kancil berpegangan erat pada ember saat dia ditarik keluar dari dasar sumur.

Para Gajah serta merta mengerumuninya dan bertanya-tanya mengapa Sang Kancil bisa berada di dasar sumur. Tadinya mereka mengira Sang Kancil sengaja berdiam diri di sana. Kemudian Gajah-gajah itu membawakan berbagai macam pucuk daun muda dan buah-buahan untuk Sang Kancil yang terlihat begitu lemah sehingga sulit berjalan.

Setelah satu malam menginap di tempat itu dengan dijaga para Gajah, Sang Kancil merasa dirinya cukup kuat untuk melanjutkan perjalanan menuju pantai selatan samas untuk bertemu dengan keluarga Paus biru. Keluarga mamalia laut raksasa itu mengundang Sang Kancil untuk mengajari mereka tentang perubahan angin, cuaca dan iklim di Samudera Hindia agar mereka tidak terdampar di pantai yang dangkal karena kesalahan memperkirakan sifat-sifat lautan.

Kancil berterimakasih pada para Gajah yang telah membantunya. Para Gajah juga merasa sangat berhutang budi pada Sang Kancil yang telah memberi tahu teknik sederhana mengambil air dari dalam sumur. Sengaja mereka membawa ember butut bertali ke rumah mereka di tengah hutan. Di sana terdapat sumur yang tidak pernah dimanfaatkan karena para Gajah tidak tahu cara mengambil air dari sumur yang dalam. (SELESAI).

6. Burung Bangau dan Seekor Anjing

Kumpulan Cerita Hewan Fabel Pendek Terbaru 2018 + Pesan Moral
romawiki.org

7. Kijang dan Seekor Kambing

Kumpulan Cerita Hewan Fabel Pendek Terbaru 2018 + Pesan Moral
romawiki.org

8. Kucing Kota Dan Kucing Desa

Kumpulan Cerita Hewan Fabel Pendek Terbaru 2018 + Pesan Moral
romawiki.org

9. Dongeng Rusa dan Kura-Kura

Kumpulan Cerita Hewan Fabel Pendek Terbaru 2018 + Pesan Moral
romawiki.org

10. Anjing Gunung, Keledai dan Macan Tutul

Kumpulan Cerita Hewan Fabel Pendek Terbaru 2018 + Pesan Moral
romawiki.org

11. Kadal dan Ular Air

Kumpulan Cerita Hewan Fabel Pendek Terbaru 2018 + Pesan Moral
romawiki.org

12. Kelinci dan Anjing Petani

Kumpulan Cerita Hewan Fabel Pendek Terbaru 2018 + Pesan Moral
romawiki.org

13. Kuda yang memakai kulit harimau

Kumpulan Cerita Hewan Fabel Pendek Terbaru 2018 + Pesan Moral
romawiki.org

14. Semut dan Belalang

Kumpulan Cerita Hewan Fabel Pendek Terbaru 2018 + Pesan Moral
romawiki.org

15. Rubah dan Kambing (Karya Tony Ireland)

Kumpulan Cerita Hewan Fabel Pendek Terbaru 2018 + Pesan Moral
romawiki.org

16. Kelinci dan Kura Kura (Karya Aesop)

Kumpulan Cerita Hewan Fabel Pendek Terbaru 2018 + Pesan Moral
romawiki.org

17. Beruang dan Lebah

Kumpulan Cerita Hewan Fabel Pendek Terbaru 2018 + Pesan Moral
romawiki.org

18. Gagak dan Elang

Kumpulan Cerita Hewan Fabel Pendek Terbaru 2018 + Pesan Moral
romawiki.org

19. Keledai dan Katak

Kumpulan Cerita Hewan Fabel Pendek Terbaru 2018 + Pesan Moral
romawiki.org

20. Ayam dan Kuda Nil

Kumpulan Cerita Hewan Fabel Pendek Terbaru 2018 + Pesan Moral
romawiki.org

21. Gajah yang baik hati dan suka menolong

Kumpulan Cerita Hewan Fabel Pendek Terbaru 2018 + Pesan Moral
romawiki.org

22. Lebah dan Semut

Kumpulan Cerita Hewan Fabel Pendek Terbaru 2018 + Pesan Moral
romawiki.org

23. Si Monyet Yang Nakal

Kumpulan Cerita Hewan Fabel Pendek Terbaru 2018 + Pesan Moral
romawiki.org

24. Kecerdikan Menumbuhkan Kebaikan

Kumpulan Cerita Hewan Fabel Pendek Terbaru 2018 + Pesan Moral
romawiki.org

25. Pertolongan Membawa Bahagia

Kumpulan Cerita Hewan Fabel Pendek Terbaru 2018 + Pesan Moral
romawiki.org

26. Katak dan Siput

Kumpulan Cerita Hewan Fabel Pendek Terbaru 2018 + Pesan Moral
romawiki.org

27. Semut dan Lebah

Kumpulan Cerita Hewan Fabel Pendek Terbaru 2018 + Pesan Moral
romawiki.org

28. Harimau Yang Terjerumus

Kumpulan Cerita Hewan Fabel Pendek Terbaru 2018 + Pesan Moral
romawiki.org

29. Patih Buaya Yang Korupsi

Kumpulan Cerita Hewan Fabel Pendek Terbaru 2018 + Pesan Moral
romawiki.org

30. Keharuan Seekor Anjing

Kumpulan Cerita Hewan Fabel Pendek Terbaru 2018 + Pesan Moral
romawiki.org

Demikian Kumpulan Cerita Hewan Fabel Pendek Terbaru Tahun 2018 Disertai dengan Pesan Moral nya. Semoga bermanfaat.

Leave a Comment